DARI BENTENG PENJAJAH JADI SIMBOL ISLAM: Begini Sejarah Berdirinya Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin!
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Siapa sangka, di atas tanah yang dulu menjadi simbol kekuasaan kolonial Belanda, kini berdiri megah Masjid Raya Sabilal Muhtadin, ikon spiritual dan kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. Dari deru meriam di masa penjajahan hingga lantunan azan yang menggema setiap hari, tempat ini menyimpan jejak panjang perjalanan peradaban Banua.
Di masa silam, lokasi masjid ini adalah Benteng Tatas — dikenal bangsa Eropa sebagai Fort Tatas atau Port Pantatas — benteng strategis Belanda yang dibangun permanen pada 1 Oktober 1709. Benteng ini menghadap langsung ke Sungai Martapura di satu sisi, dan ke daratan di sisi lainnya, lengkap dengan menara pengawas. Dikelilingi kanal Sungai Tatas, benteng seolah membentuk pulau kecil di tengah kota.
“Tidak banyak yang tahu, di balik kemegahan masjid ini tersimpan sejarah panjang perjuangan rakyat Banua,” ungkap Faturrahman, Kabid Pembinaan Pemuda dan Wanita Badan Pengelolaan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.
Benteng Tatas bukan sekadar markas militer, tapi juga pusat administrasi Belanda yang mengendalikan wilayah Kalimantan Selatan, Tengah, dan Tenggara hingga akhir Perang Dunia II. Pasca kemerdekaan, benteng ditinggalkan, menyisakan lahan kosong penuh kenangan pahit.
BACA JUGA:Air Leding di Desa Gunung Raja Bakal Mati 12-13 Agustus 2025 Nanti
Dari Reruntuhan Penjajahan Menuju Kebangkitan Islam
Pada tahun 1964, Gubernur H. Abrani Sulaiman bersama Pangdam X, Amir Mahmud, menggagas pembangunan masjid di atas lahan bekas benteng. Gagasannya sederhana tapi sarat makna: mengubah simbol penindasan menjadi pusat syiar Islam.
Rencana ini sempat terhenti akibat situasi politik nasional seperti peristiwa G30S/PKI. Barulah pada 10 November 1974, di era Gubernur Soebarjo, pembangunan dimulai kembali dengan melibatkan tim ahli dari ITB Bandung dan dukungan penuh masyarakat Banua.
Masjid ini mulai digunakan untuk salat Iduladha pada 31 Oktober 1979, lalu diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1981. Namanya diambil dari karya monumental ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari — Sabilal Muhtadin — yang menjadi rujukan fikih hingga ke mancanegara.
“Penamaan ini adalah penghormatan kepada ulama Banjar yang kitabnya masih menjadi pedoman umat hingga kini,” jelas Faturrahman.
Pusat Syiar dan Simbol Persatuan
Kini, Masjid Raya Sabilal Muhtadin bukan hanya rumah ibadah, tetapi juga pusat kajian Islam. Ulama nasional dan internasional pernah mengisi tausiah di sini, dari KH Ahmad Bakri hingga KH Husin Navarin. Setiap malam Jumat dan hari besar Islam, masjid selalu dipenuhi jamaah untuk pengajian, kajian tafsir, hingga kegiatan sosial.
“Masjid ini bukti bahwa Islam mampu bangkit dari reruntuhan kolonial menjadi mercusuar spiritual yang damai dan megah,” pungkas Faturrahman.
Masyarakat Banua terus mendoakan semua tokoh, ulama, dan donatur yang berjasa membangunnya, berharap amal jariyah mereka terus mengalir hingga akhirat.(Wartabanjar.com/Ramadan)
editor: nur muhammad