Laporan ini menunjukkan bahwa Kubu Raya menjadi wilayah yang paling berisiko, dengan dua stasiun pemantauan TMAT berada dalam kategori berbahaya.
Di Kubu Raya, dari total sembilan stasiun TMAT, dua stasiun (1%) terdeteksi dalam kategori ini.
Selain itu, satu stasiun berada di kategori sangat Rawans (60-80 cm), dan sembilan stasiun (8%) lainnya di kategori rawan (40-60 cm).
“Kondisi ini menjadi indikator penting dalam upaya pencegahan karhutla. Lahan dengan muka air tanah yang dalam sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan,” jelasnya.
Selain Kubu Raya, beberapa wilayah lain juga menunjukkan kondisi rawan, meskipun tidak separah Kubu Raya. Di Sintang, dua stasiun (15%) tergolong rawan. Ketapang mencatat tiga stasiun (50%) dalam kategori rawan.
Sementara itu, di Sambas, tiga stasiun (50%) berada di kategori rawan dan satu stasiun (17%) di kategori sangat rawan.
Oleh karenanya, untuk mengantisipasi lonjakan karhutla, tim gabungan yang terdiri dari BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Provinsi, dan TNI telah meningkatkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga malam hari.
Mengingat luasnya Provinsi Kalimantan Barat, maka untuk menjangkau area yang lebih timur dari Provinsi Kalbar, perlu dipertimbangkan opsi penempatan armada pesawat di lokasi-lokasi yang memungkinkan seperti di Sintang atau Putussibau, dengan tetap mempertimbangkan kesiapan dan kelengkapan dukungan bandara terkait untuk mendukung penerbangan OMC.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh Menteri KLH/BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, Gubernur Kalbar, Ria Norsan, Panglima Kodam (Pangdam) XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Jamallulael, Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Kalimantan Barat, Brigjen Pol. Roma Hutajulu, serta jajaran pejabat lintas sektor lainnya yang sepakat untuk memperkuat koordinasi dan mitigasi karhutla. (Yayu/berbagai sumber)
Editor: Yayu







