1 Safar 1447 H Jatuh pada Hari ini, Sabtu 26 Juli

Ia menambahkan, kegiatan rukyat bersama MABIMS tidak hanya bersifat seremonial, melainkan sarana transfer pengetahuan dan penyamaan metode antarnegara. “Rukyat bersama ini adalah laboratorium kolaborasi. Kita belajar dari pengalaman masing-masing negara, membandingkan instrumen, dan mendiskusikan standar ilmiah yang semakin kokoh,” jelasnya.

Menurut Arsad, penguatan kerja sama falak MABIMS memiliki nilai strategis dalam harmonisasi kalender hijriah di kawasan Asia Tenggara. “Dengan pendekatan yang ilmiah dan berbasis fikih, kita ingin memastikan umat memiliki pedoman yang sama, terutama terkait ibadah yang bergantung pada penanggalan hijriah seperti puasa, Idulfitri, dan Iduladha,” paparnya.

Arsad juga menekankan pentingnya integrasi antara ilmu falak (astronomi) dengan kajian fikih kontemporer. Menurutnya, penentuan hilal bukan hanya soal teknis melihat bulan sabit, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap maqashid syariah. “Integrasi fikih dan astronomi adalah hikmah terbesar di era modern. Dengan sinergi ilmu, kita menjaga kemurnian syariat sekaligus memastikan keabsahan ilmiah,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Arsad memuji peran para akademisi, ormas Islam, dan praktisi falak yang terlibat aktif. “Rukyat bukan hanya kerja pemerintah. Ini kerja kolaboratif. Ada ahli falak kampus, ada ormas keagamaan, ada komunitas astronomi, semua terlibat. Ini yang membuat rukyat di Indonesia semakin kaya perspektif,” ungkapnya.