WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Tidak hanya mengandalkan smash keras dan blok kokoh, tim nasional voli putra Indonesia U-16 menunjukkan bahwa ketangguhan mental adalah senjata utama mereka saat menembus babak delapan besar Kejuaraan Voli Asia U-16 2025 di Thailand.
Berlaga di level Asia bukan hal sepele bagi para pemain belia yang rata-rata masih berusia 14–15 tahun. Tekanan bermain melawan tim-tim kuat seperti Iran dan Korea Selatan bisa menjadi momok bagi mental bertanding. Namun, pelatih kepala Indra Wahyudi punya pendekatan berbeda: membangun kepercayaan diri dan mental bertarung sejak dari pelatnas.
“Kami selalu tanamkan bahwa lawan seberat apa pun, mereka juga manusia. Kalau kita siap, kita bisa,” ungkap Indra
Belajar dari Kekalahan, Tumbuh Lewat Tantangan
Setelah menelan kekalahan dari Iran 1-3, Indonesia bangkit dengan performa dominan saat menghadapi Kazakhstan dan Hong Kong. Indra menyebut hal ini sebagai bukti bahwa para pemainnya mampu beradaptasi dan belajar cepat.
“Yang terpenting bukan hanya teknik, tapi bagaimana anak-anak bisa tetap fokus, tidak panik saat tertinggal, dan percaya pada instruksi pelatih,” ujar Indra.
Fokus utama saat ini, menurutnya, bukan sekadar mengejar kemenangan, tetapi membentuk pemain dengan karakter tangguh untuk jangka panjang. Di tengah atmosfer kompetisi yang padat, rotasi pemain juga digunakan untuk menghindari stres berlebihan dan menjaga keseimbangan tim.
Latihan Visualisasi dan Simulasi Tekanan
Menariknya, dalam sesi latihan terakhir menjelang babak klasifikasi Pool F, tim pelatih menyisipkan latihan visualisasi pertandingan dan simulasi tekanan mental. Hal ini bertujuan untuk membiasakan pemain menghadapi suasana pertandingan sesungguhnya, termasuk tekanan dari suporter lawan.

