TRAGIS! Terungkap Pesan Terakhir Mahasiswi UNS Sebelum Lompat ke Sungai Bengawan Solo
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, SOLO – Duka menyelimuti jagat maya usai kabar tragis tentang Devita Sari Anugraeni (DSA), seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) yang nekat melompat dari Jembatan Jurug ke Sungai Bengawan Solo, Selasa siang (1/7/2025).
Peristiwa memilukan ini mengejutkan publik, terutama setelah terungkapnya isi pesan terakhir yang ditulis DSA dalam sebuah buku. Buku itu ditemukan di dalam tas miliknya, yang tergeletak di atas sepeda motor Honda Beat merah-putih berpelat nomor AA 3757 CY, yang terparkir di sisi jembatan.
Isi Pesan yang Menggugah Hati
Menurut keterangan petugas, pesan terakhir DSA yang tertulis di dalam buku tersebut menyiratkan pergulatan mental yang berat. Isi tulisan tersebut diduga menjadi alasan di balik keputusan nekatnya mengakhiri hidup dengan cara tragis.
BACA JUGA:PENUMPANG NGAMUK! Ngaku Rugi Ratusan Miliar Gegara Lion Air Delay, Netizen: Kalau Ratusan M, Kok Naik Lion?
Hingga kini, pihak keluarga belum memberikan pernyataan resmi. Sementara itu, DSA yang lompat dari Jembatan Jurug Solo ditemukan dalam kondisi tewas. Jenazah DA ditemukan di sekitar jembatan ring road atau berjarak sekitar tiga kilometer dari lokasi jatuh.
Reaksi Netizen: Antara Duka dan Perdebatan
Kabar meninggalnya DSA mengundang berbagai respons dari netizen. Banyak yang menyampaikan belasungkawa dan mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental:
“Mental health itu bukan hal sepele. Semoga Mba-nya tenang di sisi-Nya 🥀,” tulis seorang warganet.
“Ya Allah... semoga engkau mendapatkan kedamaian yang tak sempat kau rasakan di dunia 😢.”
“Istirahat yang tenang, kamu sudah cukup berjuang…”
Namun, di sisi lain, muncul pula komentar kontroversial yang memancing perdebatan:
“Capek hidup itu bukan alasan untuk bunuh diri, masih banyak yang lebih menderita…”
“Kenapa harus loncat dari jembatan? Gak ada yang lihat dan mencegah?”
Ada juga komentar yang menyayangkan tindakan DSA karena dianggap melanggar nilai agama dan merugikan keluarga yang ditinggalkan.
Jangan Diam, Cari Bantuan!
Kejadian ini kembali membuka mata masyarakat akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Jangan ragu untuk mencari pertolongan, baik kepada profesional, keluarga, atau orang-orang terdekat.
Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami krisis psikologis, hubungi layanan konseling atau psikolog profesional. Hidup layak untuk diperjuangkan, dan kamu tidak sendiri.
Catatan redaksi: Jika kamu mengalami tekanan mental atau berada dalam kondisi darurat psikologis, segera hubungi layanan bantuan seperti Halo Kemenkes di 1500-567 atau konsultasikan ke psikolog terdekat.(Wartabanjar.com/voktis.id/berbagai sumber)
editor: nur muhammad