WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Musim Formula 1 2025 menjadi tantangan terbesar bagi Red Bull Racing sejak era kejayaan mereka dimulai. Tim asal Austria itu datang ke kandang sendiri, Red Bull Ring, dengan kondisi yang jauh dari kata ideal. Dominasi mereka mulai pudar, dan publik pun mulai bertanya: apa yang sebenarnya salah dengan Red Bull musim ini?
Dengan Max Verstappen hanya finis kedua di GP Miami dan beberapa hasil mengecewakan sebelumnya, tekanan untuk bangkit kini mencapai puncaknya di GP Austria, seri ke-11 F1 musim ini.
Kehilangan Konsistensi di Tengah Persaingan Ketat
Sejak awal musim, performa Red Bull tampak naik-turun. Meskipun Verstappen tetap tampil kompetitif, keunggulan mereka yang dulu tampak superior kini semakin terkikis. Tim-tim rival seperti McLaren dan Mercedes telah menemukan konsistensi dalam strategi dan pengembangan mobil, sesuatu yang tampaknya belum dimiliki Red Bull tahun ini.
“Kami belum menemukan setelan yang sempurna dalam beberapa balapan terakhir. Situasi ini membuat kami harus bekerja lebih keras di setiap akhir pekan,” ungkap salah satu insinyur Red Bull, dikutip dari F1TV.
Krisis Inovasi dan Tekanan Internal
Sumber dari paddock menyebutkan bahwa pergeseran tim teknis internal dan arah pengembangan mobil yang kurang agresif membuat Red Bull sedikit tertinggal dalam perang inovasi teknis musim ini. Ditambah lagi, harapan tinggi dari publik Austria menjadikan setiap kegagalan terasa berlipat ganda.
Apalagi kini muncul rumor soal gesekan kecil antara kubu manajemen dengan teknisi senior, menyangkut arah pengembangan mobil yang terlalu fokus pada Verstappen, dan belum memberi cukup ruang bagi pembalap kedua untuk berkembang.







