Prevalensi Stunting Tinggi, Desa Pasting dan Patikalain Jadi Sorotan di Kecamatan Hantakan

Meskipun berbagai layanan telah disediakan, tantangan terbesar masih ada pada kepatuhan masyarakat dalam mengonsumsi suplemen serta pemenuhan asupan gizi yang cukup, terutama protein.

“Kadang tablet tambah darah sudah diberikan, tapi tidak diminum. Padahal protein sangat penting untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuh,” jelas Kepala Puskesmas Hantakan.

Setelah melahirkan, bayi dan balita terus dipantau di Posyandu. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang hanya fokus pada berat badan, padahal indikator stunting adalah tinggi badan berdasarkan umur.

“Menaikkan tinggi badan tidak mudah. Sekali anak masuk kategori stunting, apalagi sangat pendek, sulit untuk keluar dari kondisi itu,” katanya.

Untuk mengurangi dampak jangka panjang, anak-anak stunting mendapatkan Stimulasi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dan diberikan alat permainan edukatif (APE) guna melatih kognitif.

Namun, Kepala Puskesmas Hantakan menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat tergantung pada peran keluarga. PMT hanya bersifat tambahan.

Jika di rumah masih terdapat perokok aktif, pola makan buruk, atau pola asuh tidak tepat, maka risiko stunting tetap tinggi.

Penanganan stunting juga melibatkan sektor pertanian dan PKK. Produksi pangan lokal harus dimanfaatkan, lalu diolah menjadi makanan sehat dengan kandungan gizi seimbang.

“Kalau anak sulit makan, minimal protein dan vitaminnya harus tercukupi. Protein tidak hanya untuk tumbuh, tapi juga untuk menjaga daya tahan tubuh,” jelasnya. (Adew)

Editor Restu