WARTABANJAR.COM, RIAU – Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Seorang balita perempuan berusia 2 tahun, yang diasuh oleh pasangan suami-istri AYS (28) dan YP (24), meninggal dunia akibat penganiayaan pada Rabu, 11 Juni 2025. Tragisnya, kekerasan tersebut direkam sambil tertawa oleh pelaku YP . Kronologi Kejadian Ibu korban, IS (21), menitipkan anaknya ke YP sejak Jumat, 23 Mei 2025, atas permintaan YP yang ingin belajar menjadi orang tua. Pada Selasa, 10 Juni 2025, AYS melaporkan bahwa balita mengalami kecelakaan lalu lintas dan dirawat di RSUD Teluk Kuantan. Namun, semalam kemudian korban meninggal dunia. Hasil pemeriksaan medis dan rekaman video mengungkapkan penyiksaan—kelamin dan tangan si kecil dililit lakban, dipukul, dicubit, bahkan dilempar ke kasur ketika menangis. BACA JUGA:VIDEO VIRAL! Iran Serang Israel Lagi, Rudal Hipersonik Gempur Haifa: Korban Meningkat, Dunia Khawatir Polres Kuansing menetapkan kedua pelaku sebagai tersangka atas kekerasan yang menyebabkan kematian balita tersebut. Fakta Terungkap: Dalam video yang diperiksa penyidik, YP tampak tertawa saat merekam AYS mengikat dan melakban badan korban—tindakan yang didalamnya menunjukkan unsur sadisme. Luka-luka korban ditemukan pada tangan, kaki, dan tubuh, tidak konsisten dengan klaim kecelakaan. Dikenakan Pasal Kekerasan Keduanya kini ditahan dan dijerat Pasal kekerasan terhadap anak hingga menyebabkan kematian. Kasus ini mencerminkan pentingnya verifikasi dan pengawasan terhadap orang yang dipercaya sebagai pengasuh anak, terutama dalam kondisi ekonomi sulit. Netizen Geram Kematian tragis balita perempuan berusia dua tahun di tangan pasangan pengasuhnya, AYS dan YP, menuai gelombang kemarahan dan kesedihan dari warganet. Unggahan tentang kasus tersebut di media sosial dibanjiri komentar penuh emosi, doa, dan kritik terhadap lemahnya perlindungan terhadap anak di Indonesia. Tak sedikit pula yang menuntut hukuman berat bagi pelaku, bahkan berharap narapidana lain turut memberi ‘pelajaran’ kepada pasangan sadis itu di balik jeruji besi. “Tugas mulia untuk para napi di dalam penjara kepada pasangan ini!!!” Selain itu, netizen juga dibuat bingung oleh narasi yang sempat beredar, yang menyebut AYS sebagai ayah korban. Banyak yang mempertanyakan apakah ada kesalahan penyampaian informasi atau justru kondisi keluarga yang lebih kompleks. “Kan ibunya nitip ke pasutri, kok AYS dibilang ayah korban juga? Berarti ibunya istrinya juga? Tolong perjelas caption-nya.” Dalam kolom komentar, tak sedikit yang mengaitkan kekejaman pelaku dengan alasan spiritual mengapa mereka belum dikaruniai anak. “Makanya gak dipercaya untuk punya anak.” “Pantes belum dikasih Tuhan anak. Anak orang lain aja disiksa, gimana kalau punya sendiri?” Ungkapan keprihatinan mendalam pun terus berdatangan: “😢 Mau marah, tapi mending doa buat adik…” “YA ALLOH ASTAGHFIRULLAHALAZIM…” “Al-Fatihah buat adeknya…” Namun, kemarahan juga diarahkan pada sistem hukum yang dinilai terlalu lunak untuk kejahatan sekejam ini. “Sayangnya, hukum di sini ringan. Harusnya dihukum seberat-beratnya!” “Setiap hari baca berita begini, ya Allah... 😢😢”.(Wartabanjar.com/kompascom/detik/instagram/berbagai sumber) editor: nur muhammad