WARTABANJAR.COM, MARTAPURA- Di balik kemegahannya hari ini, Masjid Al Karomah Martapura menyimpan kisah yang jauh lebih dari sekadar bangunan ibadah.
Dahulu dikenal sebagai Masjid Jami Martapura, yang pernah menjadi saksi bisu kobaran perlawanan terhadap kebrutalan penjajahan Belanda terhadap rakyat Pasayangan.
Sekadar informasi, kini Pasayangan menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Sejarawan dan Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mursalin, menceritakan pada 3 Februari 1862, sebuah kapal yang membawa Pangeran Hidayatullah, seorang tokoh penting dalam perjuangan Banjar melawan penjajahan Belanda, berlabuh di tepian Sungai Martapura, tepat di dekat rumah pejuang Demang Lehman.
“Persinggahan itu ternyata bukan sekadar titik persinggahan biasa, melainkan menjadi titik kritis dalam sejarah panjang perlawanan rakyat Banjar,” ungkapnya kepada wartabanjar, Jumat (13/6/2025) pagi.
Pangeran Hidayatullah yang saat itu adalah mantan mangkubumi, turun dari kapal untuk mengucapkan salam perpisahan kepada rakyatnya, namun perpisahan itu tidak diterima dengan lapang dada.
“Rakyat yang berkumpul menangis dan berteriak, seakan menggema dengan semangat perlawanan. Di balik kerumunan tersebut, beberapa orang sudah siap siaga, memegang senjata, bersiap jika keadaan memanas,” lanjutnya.
Namun, seorang perwira Belanda yang mendampingi Pangeran Hidayatullah, C.F. Koch mencium adanya ketegangan di antara rakyat yang berkumpul.
Ia segera mengirim surat kepada Demang Lehman untuk meminta klarifikasi situasi tersebut.
“Jawaban yang diterima bukan sekadar penjelasan, melainkan sebuah deklarasi suara hati rakyat Martapura yang menolak pengasingan Hidayatullah,” jelas Mursalin.
Tak hanya itu, petisi yang ditandatangani para haji dan tokoh masyarakat juga ikut menyuarakan penolakan mereka terhadap keputusan Belanda tersebut.
“Bahkan, mereka bersumpah akan ikut pergi jika Hidayatullah diasingkan ke Jawa,” tambahnya.
Ketegangan semakin meningkat, dan dalam kabut siasat, Demang Lehman merencanakan pelarian Hidayatullah.







