WARTABANJAR.COM, INDRAGIRI HULU – Tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Seorang pelajar kelas 2 SD berinisial C meninggal dunia diduga akibat dianiaya oleh lima kakak kelasnya. Tubuh korban ditemukan dengan luka-luka parah, bahkan jaringan usus buntunya dilaporkan mengalami kerusakan. Peristiwa tragis ini membuat sang ayah, G, tak kuasa menahan kesedihan. Ia histeris saat proses pemakaman putra sulungnya, di tengah isak tangis para pelayat yang hadir. Dalam tangisnya, G menuntut keadilan atas kematian anaknya. “Saya hanya ingin keadilan untuk anak saya!” teriak G dalam video yang beredar luas di media sosial. Peristiwa ini mengundang gelombang kemarahan warganet. Ribuan komentar mengalir, mengecam para pelaku dan mempertanyakan sistem pendidikan yang dinilai lalai melindungi siswa dari kekerasan. BACA JUGA:Kebakaran Hebat di Desa Buhut Jaya, Kapuas Tengah: Satu Toko dan Satu Rumah Hangus Terbakar Berikut beberapa reaksi warganet: “Sekolah seringkali lebih membela pelaku bully demi menjaga reputasi. Korban malah dikorbankan lagi.” “Ini bukan sekadar kenakalan anak. Ini penghilangan nyawa. Hukum harus tegas meski pelaku di bawah umur!” “Surga tempatmu, dek. Dunia ini terlalu kejam untuk anak sebaik kamu.” “Kok bisa anak-anak sekejam ini? Apa guru dan lingkungan tidak peka?” “Saya jadi takut menyekolahkan anak. Lingkungan sekolah sekarang makin mengerikan.” Tragedi ini memicu perdebatan soal efektivitas perlindungan anak, serta desakan agar para pelaku tetap mendapat konsekuensi hukum yang adil meskipun masih di bawah umur. Netizen juga menyoroti pentingnya peran sekolah, guru, dan orang tua dalam membentuk lingkungan yang aman dan penuh toleransi bagi seluruh siswa. “Satu nyawa hilang, trauma keluarga korban seumur hidup. Jika dibiarkan, akan ada korban-korban berikutnya,” tulis seorang warganet.(Wartabanjar.com/mood.jakarta/berbagai sumber) editor: nur muhammad