WARTABANJAR.COM, BANJARBARU- Rencana penutupan total Jembatan A. Yani Km. 31 pada 1 Juni 2025 nanti, mendapat perhatian serius dari Pengamat Tata Kota sekaligus Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Eng. Akbar Rahman. Menurutnya, keputusan ini menandai fase penting dalam modernisasi infrastruktur kota, namun sekaligus memantik kekhawatiran soal kesiapan kota menghadapi lumpuhnya satu simpul transportasi vital. Dr. Akbar menjelaskan, jembatan A. Yani tersebut bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan juga jalur vital yang menghubungkan beberapa daerah strategis seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Batulicin serta Bandara Syamsudin Noor. "Sudah seperti urat nadi mobilitas Kalimantan Selatan. Ketika ditutup total, yang terguncang bukan cuma kendaraan, tetapi juga pola hidup, perekonomian harian bahkan rasa aman warga," ungkapnya. Penutupan ini memaksa arus kendaraan dialihkan ke jalan-jalan lingkungan seperti Karang Anyar, Kebun Karet, RO Ulin dan Mistar Cokrokusumo. Sayangnya, jalur-jalur ini tidak dirancang untuk beban lalu lintas sebesar itu. "Tanpa bahu jalan, drainase memadai, atau sistem rambu yang jelas, lonjakan kendaraan berisiko memicu kemacetan pada titik simpang sempit, kerusakan infrastruktur jalan, polusi, hingga menimbulkan risiko keselamatan bagi warga," terang Dr. Akbar lagi. Ia menambahkan, solusi seperti pembangunan jembatan sementara untuk kendaraan kecil dan layanan penting atau metode pembangunan bertahap (half-width construction) sebenarnya dapat dipertimbangkan untuk menjaga kelancaran lalu lintas. "Selain itu penyelarasan sistem navigasi digital seperti Google Maps dengan informasi penutupan jalan sangat dibutuhkan untuk memudahkan pengguna jalan," ucapnya. Lebih jauh, pemerintah diharapkan tidak hanya mengandalkan rekayasa lalu lintas semata. Tindakan atau langkah secara menyeluruh dan lengkap juga harus dilakukan. "Mulai dari penguatan jalan alternatif secara struktural, pembaruan sistem rambu lalu lintas, pengaturan waktu melintas kendaraan berat, hingga komunikasi transparan dengan masyarakat," bebernya. BACA JUGA: Kebakaran Hebat Landa Bumdes di Katingan Api Masih Berkobar dan Damkar Terkendala Medan Rusak Lebih dari itu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak melupakan sisi sosial. "Warga di sekitar jalur pengalihan berhak atas ruang hidup yang aman dan nyaman. Mereka harus dilibatkan dalam forum komunikasi warga terdampak dan dijamin keselamatannya," imbuhnya. Penutupan Jembatan A. Yani ini, menurut Dr. Akbar menjadi ujian besar apakah Banjarbaru dan sekitarnya cukup tangguh dan terencana. "Jika ini dianggap hanya sebagai urusan teknis, maka kita salah memahami bahwa kota dibangun bukan hanya dengan semen dan baja, tapi juga dengan etika ruang dan keberpihakan pada masyarakat," pungkasnya. (IKhsan) Editor: Yayu