Geger Katy Perry Unggah Video Berada di Antariksa, Banyak Meragukan dan Menduga Palsu

Hal tak terduga seperti gaya rambut pun jadi objek perdebatan.

Perry dinilai memiliki rambut yang “terlalu rapi” untuk situasi tanpa gravitasi. Padahal, seperti dijelaskan oleh para pakar antariksa, perbedaan durasi misi (3 menit vs 9 bulan) serta perlakuan terhadap rambut (styling selebritas vs natural astronot) sangat memengaruhi tampilan visual.

Teori paling liar menyebutkan bahwa misi ini menyisipkan simbol Baphomet pada patch kru NS-31 yang dikenakan Katy Perry.

Bahkan, momen ketika ia membunyikan lonceng sebelum terbang disebut sebagai “ritual satanik publik”.

Teori ini mengaitkan desain lambang misi dengan video musik Perry yang berjudul “E.T.”, di mana ia muncul dengan kaki kambing.

Padahal, simbol dalam patch justru mewakili identitas masing-masing kru—mikrofon untuk Gayle King, timbangan keadilan untuk Amanda Nguyen, dan sebagainya.

Menurut psikolog Dr. Daniel Jolley dari University of Nottingham, fenomena ini bukan hal baru.

“Antariksa dan selebritas adalah dua ladang subur untuk lahirnya teori konspirasi,” ujarnya.

Ketika dua dunia itu digabung dalam satu narasi, publik cenderung sulit membedakan mana fakta, mana sensasi.

Terlepas dari kegaduhan digital, misi NS-31 tetap tercatat sebagai tonggak penting dalam sejarah pariwisata luar angkasa yang lebih inklusif gender.

Namun, keberhasilan sains tampaknya belum cukup untuk mengalahkan daya pikat algoritma dan narasi alternatif.

Katy Perry mungkin telah kembali dari luar angkasa, tapi kini ia harus menghadapi ruang yang lebih asing: dunia maya yang dikuasai kecurigaan dan mitos viral. (Berbagai sumber/inilah)