Panen Padi Apung di Kabupaten HSU Didukung Bank Kalsel

Keunggulan dari metode padi apung ini adalah efisiensi biaya dalam proses pengolahan lahan, pemupukan yang lebih hemat, serta teknik panen yang lebih sederhana.

Selain itu, padi apung juga dapat bertahan hingga 12 kali panen menggunakan strapon dan pot yang sama.

“Petani lebih menyukai padi apung ini karena lebih hemat biaya. Di awal, mereka hanya perlu membeli strapon dan pot, yang bisa dipakai untuk beberapa kali panen,” jelas Syamsir.

Syamsir berharap agar padi apung ini dapat menjadi inisiatif yang diadopsi oleh masing-masing kabupaten di Kalsel.

“Kami berharap masing-masing kabupaten menyiapkan anggaran melalui APBD untuk mendukung petani dalam mengembangkan padi apung. Alat-alat untuk olah tanam, panen, dan pasca panen juga perlu disediakan, dengan anggaran yang tidak terlalu besar,” tutupnya.

Kolaborasi ini melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalsel, Bank Kalsel, Bank Indonesia (BI), serta Bupati HSU dan para petani setempat.

Inovasi padi apung ini, yang didukung oleh Gubernur H. Muhidin, diharapkan dapat menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan pertanian di Kalimantan Selatan dan memberikan solusi bagi para petani yang mengalami kesulitan akibat keterbatasan lahan. (MC Kalsel)

Editor Restu