WADUH! Gegara Antar Uang Panai Rp 100 Juta Terlambat, Rumah Calon Pengantin Pria Dirusak Massa
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JENEPONTO – Sebuah insiden memanas terjadi di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, setelah rumah milik calon pengantin pria berinisial MK dirusak massa, Sabtu malam (5/4/2025). Peristiwa ini diduga dipicu batalnya penyerahan uang panai senilai Rp 100 juta kepada pihak calon pengantin wanita.
Perusakan terjadi sekitar pukul 21.22 WITA di Dusun Embo, Desa Turatea, Kecamatan Tamalatea. Pelaku perusakan diduga berasal dari pihak keluarga perempuan yang merasa kecewa dan malu akibat batalnya lamaran secara mendadak.
Gagal Lamaran, Uang Panai Jadi Sumber Konflik
Menurut Kapolsek Tamalatea, AKP Suardi, peristiwa ini bermula ketika pihak lelaki tidak kunjung datang menyerahkan uang panai yang telah disepakati sebelumnya.
“Lelaki MK yang beralamat di Dusun Embo batal datang membawa uang panai sebesar Rp 100 juta yang sudah disepakati kepada pihak perempuan,” ujar Suardi, Minggu (6/4/2025).
BACA JUGA:LAGA HIDUP MATI Malam Ini! Timnas U17 Indonesia vs Yaman, Menang Bisa ke Piala Dunia
Pihak keluarga perempuan diketahui sudah menunggu kedatangan MK dan rombongan untuk melangsungkan prosesi lamaran. Namun, hingga waktu yang ditentukan, MK tak kunjung muncul.
Masalah Dana dan Miskomunikasi
Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa pihak MK belum bisa melunasi total uang panai yang disepakati, sehingga penyerahan pun tertunda.
“Waktunya mengantar uang belanja sudah ditentukan. Tapi saya dengar uangnya belum cukup, jadi belum diantar. Ini membuat pihak perempuan merasa malu karena sudah menunggu tapi tidak ada kepastian,” jelas Suardi.
Orang tua MK disebut sempat meminta penundaan waktu hingga pukul 22.00 WITA agar bisa memenuhi kesepakatan. Namun, menurut keterangan pihak perempuan, komunikasi terkait perubahan waktu itu tidak pernah sampai ke mereka.
BACA JUGA:VIRAL! Detik-Detik Wisatawan Terjebak Banjir Bandang di Air Terjun Riam Marun, Satu Masih Hilang
“Kalau menurut pihak laki-laki, mereka minta waktu tambahan sampai jam 10 malam. Tapi pihak perempuan bilang tidak menerima informasi itu, jadi terjadi miskomunikasi,” kata Suardi lagi.
Situasi Berhasil Dikendalikan
Meski sempat ricuh, situasi berhasil dikendalikan oleh aparat keamanan yang turun langsung ke lokasi untuk menenangkan kedua belah pihak. Pihak kepolisian kini masih mendalami kasus tersebut dan mengupayakan mediasi untuk meredam ketegangan antar keluarga.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang jelas dan terbuka dalam tradisi lamaran, terlebih ketika menyangkut adat dan kehormatan keluarga besar.(Wartabanjar.com/@informania__)
editor: nur muhammad