Selain ziarah kubur, masyarakat Desa Merah juga menggelar yasinan keliling. Kegiatan ini dilakukan secara bergantian dari rumah ke rumah.
Warga berkumpul untuk membaca surah Yasin bersama-sama, mendoakan keluarga yang telah berpulang, dan menguatkan nilai-nilai kebersamaan.
Menariknya, yasinan keliling juga menjadi ajang berbagi rezeki. Setiap tuan rumah yang menjadi tempat yasinan akan menyuguhkan hidangan khas lebaran, seperti ketupat, opor ayam, lontong, serta aneka kue tradisional.
Hidangan ini tidak sekadar jamuan, tetapi juga simbol kebersamaan dan rasa syukur atas berkah Idulfitri.
Kepala Desa Merah, Yadiansyah, menegaskan bahwa tradisi ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang harus dijaga.
“Ziarah kubur dan yasinan keliling mengajarkan kita untuk tidak melupakan leluhur serta memperkuat hubungan antarwarga. Dengan adanya hidangan, suasana menjadi lebih hangat, dan nilai kebersamaan semakin terasa,” ujarnya.
Ia juga berharap generasi muda tetap menjaga tradisi ini agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
“Lebaran bukan hanya soal perayaan, tetapi juga momen untuk memperdalam nilai-nilai spiritual dan sosial. Tradisi ini harus terus dilestarikan,” tandasnya.(Alfi)
Editor Restu













