WARTABANJAR.COM – Alquran sebagai mukjizat Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, merupakan pedoman hidup, kitab suci ini sangat layak untuk direnungkan kapan pun dan di mana pun, terutama di sela-sela rehat dari aktivitas harian yang cukup padat.
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin dan Pegiat Kajian Keislaman, dalam tulisannya di NU Online menyebutkan, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits, siapa saja yang senantiasa mempelajari, memahami dan mengajarkan makna dalam Al-Qur’an kepada masyarakat umum, maka ia termasuk ke dalam kategori umat terbaik menurut Nabi Muhammad Saw.
Selanjutnya, cara termudah untuk menciptakan kedekatan bersama Al-Qur’an ialah dengan menjadikannya sebagai sahabat hidup di dunia, yakni berupaya selalu membacanya.
Apalagi di waktu tertentu seperti bulan Ramadhan, kelipatan pahala yang diperoleh dari membaca Al-Qur’an dapat meningkat dari waktu biasa, sehingga bisa menjadi motivasi untuk bercengkerama lebih lama dengannya.
Sudah menjadi hal yang biasa, bahwa setiap orang pasti memiliki teman dan kerabat yang selalu siap sedia membantu di waktu susah.
Begitu pula dengan Al-Qur’an, kelak di hari Akhir ia akan membela dan membantu para sahabat yang senantiasa membacanya.
Secara tegas disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Abu Umamah al-Bahili: yang artinya: “Bacalah Al-Qur’an! Karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi para sahabatnya.” (HR. Muslim)
Ash-Shan’ani menjelaskan, bahwa para sahabat yang dimaksud di dalam hadits tersebut adalah orang-orang yang membaca Al-Qur’an, merenungkan makna yang terkandung dan mempraktekkan apa yang mereka pahami darinya.
Selain itu, dianjurkan pula untuk membaca surat-surat tertentu untuk menambah keistimewaannya. Misalnya,
membaca surat Al-Mulk sebelum tidur atau membaca surat Al-Kahfi di setiap malam Jumat. (Ash-Shan’ani, At-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-shaghir, [Riyadh: Maktabah Darussalam, 2011] vol. 2, hal. 606)
Kemudian, Allah swt telah menyiapkan kedudukan istimewa bagi orang-orang yang menyibukkan diri dalam membaca Al-Qur’an.
Derajat mereka disetarakan sebagaimana para hamba yang senantiasa memohon pertolongan kepada Allah di kala susah.







