Menurutnya, mobil dengan kapasitas mesin di atas 1.400 cc dan kendaraan dengan teknologi canggih seharusnya menggunakan Pertamax dengan oktan minimal 92. Penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah, seperti Pertalite, dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna, berpotensi menimbulkan knocking, serta meningkatkan endapan karbon yang dapat merusak komponen mesin.
Implikasi Terhadap Kredibilitas BUMN
Wakil Ketua Komisi VI DPR, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio, menilai kasus korupsi di anak perusahaan Pertamina ini berpotensi mencoreng kredibilitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurut Eko, penguatan pengawasan internal, peningkatan transparansi, serta penerapan sanksi tegas bagi pelaku kecurangan sangat diperlukan agar celah yang memungkinkan praktik semacam ini tidak terulang lagi.
Respons dari PT Pertamina
Dalam keterangannya, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menegaskan bahwa distribusi energi ke masyarakat tetap berjalan normal meskipun empat petinggi subholding telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Pertamina memastikan bahwa layanan distribusi energi kepada masyarakat di seluruh Indonesia tetap menjadi prioritas utama. Kami siap bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan berharap proses hukum berjalan lancar dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah,” ujarnya.
Kasus ini menjadi peringatan penting mengenai perlunya tata kelola yang transparan dan akuntabel dalam pengelolaan BBM, demi menjaga kepercayaan publik serta kredibilitas BUMN yang selama ini diharapkan sebagai garda terdepan penyedia energi bagi masyarakat.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad






