Hilal saat matahari terbenam untuk pengamat di Indonesia pada tanggal 28 Februari 2025.
Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada hari Jumat Legi, 28 Februari 2025, berkisar antara 3.02 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 4.69 derajat di Sabang, Aceh.
Gambar 3: Peta elongasi geosentris tanggal 28 Februari 2025 untuk pengamat di 60 derajat LU sampai dengan 60 derajat LSPeta elongasi
Pada Gambar 3 ditampilkan peta elongasi geosentris untuk pengamat di 60 derajat LU sampai dengan 60 derajat LS saat Matahari terbenam di masing-masing lokasi pengamat di permukaan Bumi tanggal 28 Februari 2025.
Pada peta tersebut, elongasi adalah jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari yang diamati oleh pengamat di permukaan Bumi. Pada peta tersebut ditampilkan pula elongasi geosentris untuk pengamat di Indonesia, yang lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4: Peta elongasi geosentris tanggal 28 Februari 2025 untuk pengamat di Indonesia
Elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada hari Jum’at Legi, 28 Februari 2025, berkisar antara 4.78 derajat di Waris, Papua sampai dengan 6,4 derajat di Banda Aceh, Aceh.
Kriteria imkan rukyah Dalam rangka untuk menyatukan awal bulan Qamariah di Indonesia, kementerian Agama RI telah berusaha membuat kriteria imkan rukyah.
Ada tiga kriteria yang telah disepakati, tetapi masih menjadi tidak ada jaminan semua umat Islam akan menaatinya.
Pertama, kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Kriteria MABIMS dengan kriteria 2, 3 dan 8, (MABIMS I) yakni tinggi bulan minimal 2 derajat elongasi minimal 3 derajat dan umur bulan 8 jam sudah tidak berlaku, dengan disepakatinya kriteria baru (MABIMS II) 3 dan 6,4 yakni tinggi bulan minimal 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat yang telah disepakati menteri agama dari empat negara, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura pada tahun 2022.