Penjelasan Dokter Terkait Makan Bergizi Gratis untuk Atasi Stunting

Ia menjelaskan, begitu anak lahir 2 tahun pertama gizi harus bagus, supaya perkembangan otak, perkembangan fisik, dan semua bisa berjalan dengan optimal.

“Sasaran yang tepat ibu hamil atau menyusui dan juga anak balita butuh diberikan kandungan gizi karena pada masa bayi atau dalam kandungan, fase bertumbuh sel otak dan sel tubuh mereka butuh protein dan vitamin yang cukup, karbohidrat yang optimal sehingga stunting bisa dicegah,” jelas dokter Ita.

Sebab itu, Ita mengatakan, program makan bergizi bisa mencegah stunting jika dilakukan secara jangka panjang.

Program MBG untuk anak remaja juga bisa sebagai upaya untuk melahirkan generasi yang akan dia lahirkan berikutnya agar tidak terkena stunting.

“Program stunting juga bisa dilakukan pada remaja untuk kesiapan mereka ketika dewasa, tubuh sudah siap untuk mempunyai anak,” jelas dokter Ita.

Sebelumnya, pemerintah telah merancang menu makanan untuk Program Makan Bergizi ini guna memenuhi standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian dengan porsi makan pagi menyumbang 20-25% kebutuhan gizi harian dan makan siang 30-35%.

Program MBG bertujuan meningkatkan status gizi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita melalui penyediaan makanan bergizi sesuai standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian.

Selain itu, program ini juga memprioritaskan sosialisasi dan edukasi gizi untuk masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis juga menurut pemerintah akan melibatkan pelaku Usaha Mikro (UMKM), pengadaan bahan pangan dari petani dan nelayan setempat.

Selain itu, pemerintah berharap, masyarakat dapat menerapkan kebiasaan gizi yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah serta menurunkan angka stunting pada anak.

Melalui program MBG, pemerintah berharap tidak hanya bertujuan menyediakan makanan bergizi, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat dan bergizi seimbang guna memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia ke depannya. (berbagai sumber)

Editor: Erna Djedi