“Kepala yayasan memarahi saya di depan teman-teman dan meminta saya untuk tidak belajar di sini karena tunggakan SPP yang sudah terlalu banyak,” katanya dikutip dari lambe_turah.
Sementara itu, Ibunda Faeza, Defi Fitriani, tak kuasa menahan air mata saat menceritakan nasib anak-anaknya.
“Mereka adalah anak-anak berprestasi, terbukti dari banyaknya sertifikat penghargaan yang telah mereka terima. Namun kini, pendidikan mereka terancam terhenti hanya karena kami tidak mampu membayar uang sekolah,” ungkapnya.
Ayah Faeza, Muhammad Fahat, seorang buruh harian, mengaku keprihatinan soal kondisi pendidikan di Kabupaten Pandeglang.
“Anak-anak saya tidak bisa sekolah hanya karena kami miskin. Uang SPP sebesar Rp42 juta jelas di luar kemampuan kami. Bagaimana kami bisa membayar, sementara untuk makan sehari-hari saja sudah sulit?,” pungkasnya.(berbagai sumber)
Editor Restu






