WARTABANJAR.COM, PARINGIN - KKN STAI Al-Wasliah Barabai dampingi rombongan anak-anak TPA dan Tahfiz Desa Sungsum berziarah sekaligus berkunjung ke Candi Agung Amuntai. Salah satu anggota KKN STAI Al Wasliah Barabai, Indah Tri Wulandari mengaku dirinya dan rekan-rekannya merasa sangat nyaman atas penghormatan yang diberikan oleh masyarakat selama mereka bertugas di sini. "Kami merasa sangat terhormat dapat di ikut sertakan berziarah bersama para Bapak, Ibu, dan adik-adik tahfidz desa Sungsum," ujar indah. Baca Juga Timnas Indonesia Bisa  Menang WO di Kualifikasi Piala Dunia  Dalam kegiatan ini, mereka berziarah ke makam-makam ulama termasuk makan Guru Danau. Setelah itu mereka menyempatkan waktu untuk mampir di Candi Agung Amuntai sekaligus untuk mengedukasi anak-anak tentang sejarah yang ada di candi agung Amuntai. "Setelah ziarah kami mampir di Candi Agung, untuk mengenalkan kepada anak-anak tetang situs bersejarah yang ada di Banua," katanya. Indah berharap setelah dilaksanakan kunjungan ke Candi Agung Amuntai anak-anak akan lebih mengenal tentang budaya dan juga menambah rasa cinta mereka terhadap budaya. Perlu diketahui Candi Agung adalah sebuah situs candi Hindu beratap yang terletak di Kelurahan Sungai Malang, kecamatan Amuntai Tengah, Kota Amuntai, Kalimantan Selatan. Di sekitar candi pernah ditemukan tiang kayu ulin dan pecahan genteng. Candi ini diperkirakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang keberadaannya sezaman dengan Kerajaan Majapahit. Candi Agung di Amuntai merupakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke-14 Masehi. Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Negara Daha di Negara dan Kesultanan Banjar. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negara Dipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga daerah aliran sungai yaitu sungai Tabalong, sungai Balangan, dan sungai Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Maharaja Suryanata dan Puteri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negara Dipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai. Pada tahun 1967 di Kota Amuntai, saat dilakukan penggalian situs kepurbakalaan, ditemukan bagian dasar candi dan benda-benda kepurbakalaan. Tempat yang digali itu disebut penduduk Gunung Candi (Bukit Candi) dan candi yang dasarnya itu disebut Candi Agung. Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu yang masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun sebelum masehi. Adapun batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat di sana. Batunya sekilas sangat mirip dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa. Batu bata yang ditemukan berukuran besar mirip dengan batu bata yang juga ditemukan situs candi Kayen di Dusun Buloh Desa Kayen di Jawa Tengah. Selain itu di dalam kompleks candi terdapat bangunan yang digunakan sebagai museum. Bangunan museum berbentuk rumah adat Banjar dan berada di depan Koleksi yang terdapat di dalam museum adalah benda-benda peninggalan zaman kerajaan. Salah satunya adalah batu bata yang diduga merupakan material untuk membangun situs candi. Selain itu juga terdapat berbagai macam tembikar dengan aksara China. Sedangkan di dinding museum ini terpajang dokumentasi saat ditemukannya Candi.(Alfi) Editor Restu