Bicara Isi Primbon Termasuk Klenik atau Bukan? Tim UGM Yogya Lakukan Penelitian
Menurutnya, kesalahpahaman persepsi masyarakat terhadap primbon Jawa ini disebabkan karena ketidaksesuaian paradigma epistemologi yang digunakan dalam memahami primbon Jawa.
“Primbon Jawa sesungguhnya tidak dapat kita pahami menggunakan paradigma epistemologi Barat yang positivistik, karena paradigma Barat dan paradigma Jawa adalah sesuatu yang berbeda,” paparnya menanggapi.
“Ya karena begini, masyarakat Jawa itu kan sebetulnya masyarakat yang memiliki dasar untuk percaya kepada harmoni".
"Jadi kehidupan manusia Jawa itu mengagumkan harmoni dan ada tiga tata hubungan yang harus selalu harmoni bagi masyarakat Jawa, yaitu hubungan dengan sesuatu yang transenden (Tuhan), hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam semesta. Primbon Jawa diciptakan oleh masyarakat Jawa untuk menjaga tiga harmoni itu” ucap Achmad Charris Zubair.
Berdasarkan hasil analisis data penelitian, Bagus Arianto beserta anggota tim lainnya mengusulkan agar primbon Jawa mendapatkan perhatian dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan agar dapat dikenalkan kepada masyarakat luas.
Adapun cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan pengenalan dan pendidikan primbon Jawa sebagai warisan budaya dan pengetahuan lokal di jenjang pendidikan dan di masyarakat.
Sedangkan untuk jenjang perguruan tinggi, tim ini mengusulkan agar primbon Jawa mendapatkan tempat dalam bidang ilmu sosial-humaniora dan menjadi objek kajian riset dalam rangka merumuskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan lokal di Indonesia.(pwk)