KCIC juga memberikan kemudahan masyarakat untuk melakukan transaksi tiket melalui beragam inovasi yang terus dilakukan. saat ini masyarakat sudah dapat melakukan pembelian melalui Aplikasi Whoosh, situs ticket.kcic.co.id, Ticket Vending Machine, Loket serta aplikasi mitra seperti Access by KAI, Livin by Mandiri, BRImo, dan BNI Mobile Banking.
Melihat tinggi nya pemesanan untuk perjalanan rombongan, saat ini kcic juga telah memiliki layanan khusus rombongan melalui saluran WA 0815-1032-0909 yang dapat memudahkan pemesanan tiket dalam jumlah banyak akan dibantu langsung untuk mendapatkan tempat duduk berdekatan serta pendampingan jika dibutuhkan pada agenda tertentu.
Baca juga: Jelang PIN Polio 2024, Dinkes Berharap Anak-Anak Diimunisasi
Layanan edutrip dengan tarif khusus untuk perjalanan rombongan para pelajar juga telah dihadirkan dan menjadi salah satu program yang diminati berbagai lembaga pendidikan nasional dan internasional.
Meningkatnya minat masyarakat menggunakan whoosh untuk perjalanan Jakarta – Bandung juga terlihat melalui hadir nya penumpang rutin yang menjadi pengguna setia Whoosh, KCIC juga telah menghadirkan layanan kartu berlangganan melalui Frequent Whoosher yang bisa di beli di semua stasiun Whoosh.
“Adapun terkait klaim sebesar 5T yang disampaikan pada sejumlah pemberitaan, dapat kami sampaikan bahwa dalam prosesnya semua yang berkaitan dengan penagihan di KCIC harus melalui prosedur administrasi agar semuanya dapat dipertanggungjawabkan dengan baik termasuk dari sisi keuangan sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik (GCG),” pungkas Eva.
Seperti diberitakan sebelumnya, Proyek KCJB atau Whoosh disebut-sebut turut menjadi salah satu penyebab membengkaknya kerugian PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) pada tahun pembukuan 2023. Sepanjang tahun lalu, perusahaan konstruksi pelat merah ini menderita kerugian mencapai Rp 7,12 triliun.
Baca juga: Michael Josua, Anak Sopir ini Dilantik Jadi Perwira Remaja Polri
Kerugian perseroan ini meningkat sangat pesat daripada tahun 2022 sebesar Rp 59,59 miliar. Kerugian WIKA ini jauh lebih besar dibandingkan kerugian yang juga dialami BUMN karya lainnya seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang pada 2023 merugi Rp 3,77 triliun.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito, saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI, dikutip pada Jumat (12/7/2024). Dirinya menyebut dua faktor penyebab utama pembengkakan kerugian. Dua faktor itu yakni beban bunga dan beban lain-lain. (Sidik Purwoko)





