WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Tak hanya sukses di negara asalnya, Korea Selatan dan beberapa negara lainnya, film Exhuma kini dikabarkan diminati juga di Korea Utara.
Melansir DailyNK, Sabtu (1/6/2024), seorang informan mengatakan kepada DailyNK bahwa popularitas Exhuma menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut di kalangan warga sipil Korea Utara, tepatnya di Provinsi Hamgyong Utara yang diketahui menggunakan telepon seluler Tiongkok.
Provinsi Hamgyong terletak di ujung paling utara Korea Utara, berbatasan dengan Tiongkok.
Banyak warga sipil di sana menggunakan ponsel yang dibawa dari Tiongkok untuk keperluan bisnis, sehingga membuat mereka lebih mudah mendapatkan berita dan informasi dari luar negeri.
Mereka sering juga bertindak sebagai pengantar produk budaya lintas batas ke wilayah yang lebih dalam di Korea Utara hingga bertindak sebagai agen yang berpartisipasi dalam pemilihan konten yang diperkenalkan kepada masyarakat Korea Utara.
Permintaan film Exhuma meningkat pesat di kota-kota seperti Hoeryŏng, Provinsi Hamgyong Utara.
Kabar tersebut menyebar dengan cepat ke wilayah lain di Korea Utara.
Khususnya, banyak remaja yang menunjukkan ketertarikan pada film tersebut setelah mendengar bahwa film tersebut adalah film yang sangat populer di Korea Selatan, menarik lebih dari 11 juta penonton bioskop.
Film ini memikat pemirsa Korea Utara, di antaranya karena kesamaan budaya dengan Korea Selatan yaitu meminta bantuan dukun atau peramal jika kemalangan menimpa seperti yang digambarkan di film Exhuma.
“Warga Korea Utara juga memiliki kebiasaan yang sama, yaitu meminta nasehat dari peramal tentang cara merawat makam leluhur mereka ketika ada kejadian buruk atau penyakit dalam rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh takhayul tradisional bahwa kemalangan menimpa rumah tangga ketika para leluhur tidak puas dengan tempat peristirahatan mereka. Itulah sebabnya kisah film ini menarik bagi banyak warga Korea Utara,” ujar informan itu, dilansir dari Allkpop.
Undang-undang Korea Utara yang ada melarang warga sipil untuk mempercayai dan mempraktikkan kebiasaan takhayul, namun karena adat istiadat tersebut diturunkan dari zaman pra-modern hingga sekarang, banyak warga Korea Utara yang mengambil risiko melanggar hukum demi meminta nasehat dari peramal.
Menurut salah satu “distributor konten audiovisual ilegal” yang berbasis di Hoeryŏng, bahwa betapapun kerasnya pemerintah menindak aktivitas ilegal dan menanamkan rasa takut pada masyarakat, kegemaran masyarakat terhadap film Korea Selatan tidak dapat dihentikan.







