Baca juga: Kabaharkam Polri Tinjau Kesiapan Personil Pengamanan WWF ke-10 di Bali
Menariknya, para pejabat di Kemendikbudristek mengatakan bahwa pergantian Kurikulum ini ditujukan untuk memperbaiki skor PISA.
Padahal rekomendasi dari OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) sendiri, lembaga penyelenggara PISA tidak satupun menyebut perlunya ganti kurikulum.
Dalam rekomendasi OECD 2018 jelas dikatakan adalah yang harus dibenahi adalah kualitas kapasitas guru-guru Indonesia dengan memastikan adanya program mentoring.
Baca juga: Disebut Pemain Tersibuk Selama Laga Kontra Korsel, ini Kata Kiper Gadizha Asnanza
Kemudian juga memastikan program dari pra service training artinya pra jabatan dari seorang guru di kampusnya di FKIP di LPTK itu punya program yang mumpuni juga ada upaya untuk menarik anak-anak cerdas.
Anak-anak berprestasi mau berkarir berprofesi sebagai sebagai guru bahkan secara eksplisit dikatakan bahwa pada tahu 2018 Indonesia baru saja mengubah kurikukum.
“Pastikan semua guru mendapapatkan pelatihan yang mumpuni dan menjadikan mereka sebagai agen dari perubahan kurikulum tersebut,” bebernya.
Baca juga: Polairud Polres Tanah Bumbu Ringkus Pengedar Narkoba di Pesisir Muara Satui
Tapi, menariknya pada tahun 2022 justru pada saat test PISA yang selanjutnya pemerintah Indonesia sudah mengganti kurikulumnya dengan kurikulum baru.
“Ini yang saya sering katakan kita ini sakit kepala taoi dikasih obat cacing. Ngga sesuai antara penyakit dan obatnya. Mari kita berfikir cerdas, mari kita berfikir kritis,” kunci Indra. (Sidik Purwoko)







