Sebagai tanda kuat pengaruhnya, pada bulan Oktober 2022 Barbecue masuk dalam daftar teratas sanksi PBB yang menargetkan geng bersenjata Haiti, termasuk larangan perjalanan, pembekuan aset, dan embargo senjata.
Meskipun ada sanksi, Barbecue terus melakukan tindakan yang mengancam perdamaian, keamanan, dan stabilitas Haiti. Laporan PBB memerinci berbagai aktivitas kriminal yang dilakukan geng-geng tersebut di seluruh wilayah yang mereka kuasai, termasuk ibu kota Port-au-Prince.
Geng aliansi bersenjata pimpinan Barbecue memiliki anggota lebih dari 1.000 orang yang sebagian besar terdiri dari mantan polisi, penjaga keamanan dan anak-anak jalanan. Mereka telah dituduh melakukan pembunuhan, perampokan, pemerasan, pemerkosaan, pembunuhan yang ditargetkan, perdagangan narkoba, dan penculikan.
Para ahli sanksi PBB juga menyoroti keterlibatan Barbecue dalam pembantaian Saline yang terjadi pada tahun 2018 di daerah kumuh di ibu kota.
“Saat menjabat sebagai petugas Kepolisian Nasional Haiti, Jimmy Cherizier merencanakan dan berpartisipasi dalam serangan La Saline tahun 2018,” kata Departemen Keuangan AS yang menjatuhkan sanksi sendiri pada tahun 2020.
Pembantaian tersebut menyebabkan 71 orang tewas dalam beberapa hari, dan geng-geng bersenjata tersebut digunakan oleh pihak berwenang untuk membungkam tuntutan lingkungan kelas pekerja.
“Geng-geng bersenjata memindahkan para korban, termasuk anak-anak, dari rumah mereka untuk dieksekusi dan kemudian menyeret mereka ke jalan-jalan dengan tubuh korban dibakar, dipotong-potong, dan dijadikan makanan hewan,” demikian isi sanksi AS.
Barbecue yang secara teratur mengunggah video dirinya memegang senjata dan mengenakan jaket anti peluru di media sosial, menolak tuduhan yang ditujukan kepadanya.
“Saya bukan seorang gangster, saya tidak akan pernah menjadi seorang gangster”, katanya dalam wawancara tahun 2021 dengan stasiun televisi Al Jazeera.
“Saya berjuang untuk masyarakat Haiti,” serunya. (Sidik Purwoko)
Editor: Sidik Purwoko







