Akibat banyaknya pelanggan yang mengurangi jumlah pembelian, Fino mengaku, omzetnya turun drastis. “Berkurang sekitar 40%, pokoknya berkurang kalau telur naik enggak kayak saat di harga normal,”tuturnya.
Tingginya harga telur juga dikeluhkan warga, terutama para pelaku usaha kuliner. Heri, pedagang nasi kuning di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang mengaku terpaksa menaikan harga jual nasi kuningnya kepada pelanggan.
“Lumayan berat buat pedagang nasi kuning, paling harga nasinya saja dinaikin biar ketutup, kan harga telur mahal sekarang. Jualan juga tambah sulit sekarang, bahan-bahan masakan naik juga,” katanya.
Sementara itu, pedagang martabak telur mini, Dedeh menyiasatinya dengan mengurangi takaran dan mengurangi penggunaan bumbu agar pendapatannya tidak terlalu menipis.
“Berat sih bagi masyarakat, semua naik, beras, telur. Beli telur puyuh paling 30 butir buat jualan. Sekarang repot harga telur puyuh naik, paling nanti diperkecil ukurannya atau bumbu-bumbunya juga dikurangi,” tandasnya.
Mereka berharap pemerintah dapat segara menurunkan harga telur dan sejumlah bahan pangan lainnya yang mengalami kenaikan. Pasalnya, kenaikan yang cukup tinggi tersebut dinilai memberatkan usaha mereka. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi
Berita ini telah tayang di beritasatu.com dengan judul Harga Telur di Tangerang Tembus Rp 31.000 per Kg, Omzet Pedagang Turun 40%