Mereka membandingkan darah 420 orang yang mengalami serangan jantung pertama dalam waktu enam bulan, dan membandingkannya dengan darah 1.598 orang yang sehat.
Sekira 91 molekul dari darah tersebut diidentifikasi dalam penelitian ini sebagai biomarker serangan jantung yang akan terjadi.
“Alat baru ini didasarkan pada jenis tes darah yang biasa dilakukan seseorang saat pemeriksaan, sebenarnya tidak melibatkan rangkaian molekul yang baru diidentifikasi,” ujar penulis senior studi, Dr Johan Sundström dilansir dari laman Medical News Today, Kamis (21/2/2024).
“Awalnya kami terkejut melihat bahwa tidak ada molekul yang baru diidentifikasi yang dapat mengalahkan molekul yang sudah ada. Namun hal ini merupakan kabar baik, karena penanda tersebut sudah tersedia di layanan kesehatan saat ini,” imbuhnya. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi







