“Begitu banyak persoalan warga, dan saya heran. Karena semua itu sebenarnya dapat kita selesaikan dengan mudah. Hanya perlu kebijakan yang adil tanpa mementingkan diri sendiri dan golongan,” tegasnya.
Dia memberikan salah satu contoh konkret di Kotabaru. Yaitu jembatan Pulau Laut yang hingga sekarang mangkrak. Padahal pembangunannya telah dimula sejak 2015 lalu. Dan telah banyak anggaran daerah masuk ke sana.
“Ketika saya berdiri di kaki jembatan itu, di Tanjung Serdang, saya jujur miris. Tiang pancang sudah sampai ke tengah laut. Ini bukan perkara sulit sebenarnya. Hanya memerlukan keseriusan semua elemen kebijakan, dari daerah sampai ke pusat,” tekannya.
Kemudahan dan keberpihakan kepada gagasan besar itulah yang kemudian membuat Rahmat memutuskan partai Nasdem sebagai rumah perjuangannya. Dia melihat partai ini masih setia dengan cita-cita awal mereka saat berdiri,
“Jika amanah itu diberikan, satu yang bisa saya janjikan. Saya sejak kecil dididik untuk tidak jadi pecundang. Meninggalkan militer adalah pengorbanan yang besar bagi saya dan keluarga, tidak akan itu saya pertaruhkan hanya untuk masalah harta dan kekuasaan,” pungkasnya.
Mungkin karena darah Garuda yang dimilikinya, alias kesetiannya berjuang demi perubahan nasib rakyat itulah yang membuat Rahmat begitu gencar melakukan pertemuan di lapangan. Sampai sekarang, Rahmat terus melalukan kampanye dialogis, khususunya di Kabupaten Kotabaru.
Karena keterbatasan sebagai politikus baru, Rahmat mempersempit arena perebutan suaranya. Strategi itu semakin ke sini terlihat menemukan alasannya. Rahmat sekarang adalah caleg DPR RI yang namanya paling sering diperbincangkan warga.
Setiap usai menggelar pertemuan dengan warga di lapangan, nama Rahmat menjadi perbincangan. Bukan saja pembawaannya yang supel. Tapi juga dengan gagasan dan cita-cita yang akan dia kejar untuk warga Kotabaru, salah satunya adalah peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan yang dia yakini sama sekali bukan perkara sulit. (Rls)
Editor : Hasby







