Mengenal Gangguan Mental dan Terapi Herbal Ibnu Sina untuk Mengatasinya

Dalam acara pengajian yang diselenggarakan oleh wanita di Asia Tengah secara berkelompok, ada ulama perempuan yang membacakan Al-Qur’an.

Ruangan yang ditempati diasapi dengan tanaman yang bernama Peganum Harmala, yaitu sejenis tanaman inggu yang juga dikenal di Nusantara.

Ada kain dan asesoris yang identik dengan pakaian wanita milik para hadirin seperti sapu tangan dan kerudung serta cermin rias yang digelar di ruangan tersebut sehingga ikut terasapi.

Setelah acara selesai, sapu tangan maupun kerudung wanita yang dibawa dan digelar itu diambil oleh pemiliknya untuk dibawa pulang.

Mereka mengenakannya di rumah atau di kesempatan lainnya dengan mengharapkan kesehatan jiwa karena kain kerudung, sapu tangan, dan cermin itu telah dibacakan doa.

Namun, ternyata asap yang mengandung minyak atsiri dari tanaman yang dibakar sewaktu acara juga berpengaruh terhadap kesehatan mental ketika terhirup melalui benda-benda yang terasapi herbal itu.

Apabila ditinjau secara aspek pengobatan islami, pembacaan Al-Qur’an sudah banyak dikenal kemanfaatannya untuk kesehatan mental.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila praktik pembacaan Al-Qur’an oleh ulama perempuan di Asia Tengah itu memiliki efek positif terhadap para wanita yang menghadiri pengajian.

Dengan mendengarkan lantunan ayat suci yang dibacakan oleh ulamanya, wanita-wanita di Asia Tengah itu mendapatkan ketenangan.

Ayat-ayat suci Al-Qur’an juga dapat menjadi ruqyah terhadap gangguan non medis seperti mata jahat atau ‘ain.

Para wanita yang sering mengikuti pengajian akan mendengarkan bacaan Al-Qur’an sehingga memiliki potensi untuk terhindar dari gangguan ‘ain dan sejenisnya.

Oleh karena itu seringkali wanita di Asia Tengah menganggap bahwa menghadiri rangkaian acara pengajian menjadi salah satu sarana pengobatan holistik yang sangat bermanfaat untuk kesehatan (Kandiyoti dan Azimova, 2004, The Communal and The Sacred: Women’s World Ritual in Uzbekista, The Journal of The Royal Anthropological Institute, Volume 10 Nomor 2, Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland: halaman 327-349).

Hal yang unik adalah ketika mereka membawa pulang sapu tangan, kerudung, dan cermin rias yang telah terasapi oleh pembakaran herbal di acara pengajian.

Mereka meyakini bahwa benda-benda yang dibawa ketika acara pengajian juga ikut terlimpahi keberkahan dari kemuliaan acara itu yang di dalamnya ada pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an.

Padahal, selain berkah dari pembacaan Al-Qur’an ada fenomena ilmiah yang dapat dijelaskan sebagai efek pembakaran herbal di acara pengajian.

Ketika mereka mengenakannya di rumah, maka zat kimia dalam asap yang melekat di dalam kain maupun cermin masih bisa memberikan khasiat bagi orang yang kontak dengannya.

Oleh karena itu, zat kimia dalam materi asap itu juga memberikan efek menolak mata jahat atau ‘ain.

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti yang diketuai oleh Faridi pada tahun 2013 berhasil mengungkap senyawa aktif dalam asap herbal Peganum Harmala.

Hasil penelitian tersebut relevan dengan upaya penjagaan mental karena wanita yang menghirup asap atau residu asap tanaman tersebut akan mendapatkan ketenangan.

Efeknya, daya tahan tubuh meningkat dan berimbas baik untuk kesehatan (Faridi dkk, 2013, Chemical Composition of Peganum harmala Smoke and Volatile Oil, Journal of Essential Oil Bearing Plants, Volume 16 Nomor 4: halaman 469-473).

Apabila wanita di Asia Tengah mengenakan sapu tangan, kerudung, atau bercermin dengan cermin rias yang telah diasapi oleh herbal tersebut dari acara pengajian maka mereka menghirup residu asap.

Senyawa yang berefek baik terhadap daya tahan tubuh itu akan baik pula untuk ketenangan jiwa sehingga dapat menghindarkan mereka dari gangguan mental.

Jadi, terapi holistik dari Kawasan Asia Tengah berupa pengajian, pembacaan Al-Qur’an bersama dengan pengasapan herbal yang pernah disebutkan Ibnu Sina telah dikenal bermanfaat untuk menjaga kesehatan mental. Wallahu a’lam bis shawab. (berbagai sumber)

Editor: Erna Djedi