Ekonom Indef Rusli Abdullah melihat ada dua penyebab utama fenomena kenaikan harga pangan yang terjadi di luar momentum biasanya.
Pertama, permintaan meningkat usai pandemi dan kedua, kekhawatiran terjadinya fenomena alam El Nino.
Menurut Rusli, kenaikan permintaan usai pandemi bisa diatasi dalam waktu dekat karena kenaikan permintaan ini memang dinilai tidak diantisipasi dengan stok yang ada.
“Terkait dengan kenaikan harga karena ada aktivitas ekonomi ini saya rasa bagus. Hanya saja ada permintaan dan suplai nya yang belum memenuhi, karena ini seperti hujan tiba-tiba dan orang tidak siap-siap. Jadi keseimbangan belum terjadi, tapi saya rasa bisa diatasilah dalam waktu dekat,” imbuhnya.
Sedangkan El Nino seperti ‘hantu’ yang tidak bisa diprediksi kapan datangnya dan separah apa dampak yang ditimbulkan.
“Di sini pemerintah atau BMKG mengingatkan awas dengan El Nino. Ini secara psikologi menjadi pemicu kenaikan harga karena ada kekhawatiran di masa depan,” katanya.
Pasalnya, pemerintah hanya memperingatkan agar waspada terhadap El Nino tanpa memberikan solusi dan penjelasan lebih detail.
Karenanya, ia berharap pemerintah lebih berhati-hati dan bijak dalam menyikapi fenomena perubahan cuaca tersebut.
Ia menyarankan sebaiknya ada proyeksi di wilayah mana kemungkinan besar bakal terjadi El Nino sehingga solusinya sudah bisa diberikan atau diantisipasi.
“Misalnya dengan memperhatikan stok pangan, terutama bahan pokok di daerah tersebut. Bisa koordinasi dengan Bulog untuk memastikan stok ke wilayah yang bakal terdampak besar itu, misalnya,” jelasnya.
Tak hanya itu, ia berharap pemerintah juga memberikan solusi misalnya pangan apa yang perlu ditanam saat nantinya terjadi El Nino, karena El Nino adalah fenomena panas yang berlebihan, maka perlu diimbau ke petani untuk menanam tanaman yang tahan panas.
“Kan enggak mungkin menanam padi yang butuh banyak air, bisa-bisa gagal panen. Ini yang harus pemerintah sikapi dengan baik dan bijak. Jangan sampai koar-koar soal El Nino tapi nanti malah zonk,” tegasnya. (berbagai sumber)
Editor: Yayu







