Gerhana bulan penumbra akan mulai terjadi (kontak awal) pada Jumat (5/5/2023) pukul 22.14.08 WIB / 23.14.08 WITA/ 00.14.08 WIT, puncaknya pada Sabtu (6/5/2023) pada pukul 00.22.55 WIB / 01.22.55 WITA / 02.22.55 WIT dan berakhir pada pukul 02.31.40 WIB/03.31.40 WITA/04.31.40 WIT.
“Gerhana dapat diamati dari arah Tenggara ke Barat Daya untuk zona WIB. Sedangkan untuk zona WITA, Gerhana dapat diamati dari arah Selatan ke Barat Daya. Sementara itu untuk zona WIT, Gerhana dapat diamati dari arah Barat Daya ke Barat.” tulis Organisasi Riset dan Penerbangan Aantariksa (ORPA) BRIN.
Hujan Meteor Eta Aquariid
Hujan meteor Eta Aquariid yang kadang ditulis Eta Aquarid, aktif sejak 19 April hingga 28 Mei tiap tahunnya.
Puncaknya akan terjadi pada Sabtu (6/5/2023) hingga Minggu (7/5/2023) dini hari, hampir bersamaan dengan fase bulan purnama.
Fenomena ini merupakan satu dari dua hujan meteor yang dihasilkan dari puing-puing Komet Halley.
Gerhana Bulan Penumbra akan terjadi malam ini, 5-6 Mei 2023, yang akan terjadi berbarengan dengan puncak hujan meteor Eta Akuarid!
— InfoAstronomy.org (@infoAstronomy) May 5, 2023
Mau mengamatinya?
– Sebuah utas 🧵- pic.twitter.com/MOmKDvAe3e
Menurut BRIN, pada puncaknya, fenomena ini bisa menghasilkan 42 sampai 43 meteor per jam di saat kondisi purnama 100 persen.
Meski Bulan sedang terang-terangnya, Kepala Kantor Lingkungan Meteoroid di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Marshall NASA, Huntsville, Alabama, Bill Cooke menyebut Eta Aquariid tak akan tenggelam oleh cahaya purnama.
Pasalnya, ada peningkatan intensitas yang signifikan berupa ‘ledakan’.
Hal ini disebabkan oleh partikel yang dikeluarkan dari Komet Halley pada 390 SM.
Alhasil, intensitas meteor bisa lebih dari dua kali lipat dari biasanya, yakni mencapai sekitar 120 Zenith Hourly Rate (ZHR). (brs/berbagai sumber)
Editor: Yayu
Baca Juga: Peneliti Peringatkan Potensi La Nina Modoki, Kemarau Basah







