Kisah Kekaisaran Ottoman Menjinakkan Vlad Dracula Jadi Buah Simalakama
Vlad harus membayar pajak kepada Ottoman sebagai gantinya.
Vlad juga sebenarnya didikan Ottoman saat masih muda.
Ia diserahkan keluarganya untuk dididik dalam sains, filsafat, Islam dan bahasa Turki hingga sastra. Tapi Vlad benar-benar tidak senang berada di tangan Turki.
Vlad cemburu dengan adiknya Radu yang dianakemaskan kesultanan yang kemudian memeluk agama Islam.
Radu juga diizinkan masuk ke pergaulan Kesultanan Utsmaniyah karena sikapnya yang baik dan ksatria.
Sementara adik Vlad bersahabat dengan anak Sultan Murad II, Mehmed II (kemudian dikenal dengan nama Al-Fatih atau "Sang Penakluk"), Vlad justru nanti akan menjadi pembenci. Mereka juga yang kemudian berperan dalam penaklukan konstatinopel nantinya.
Vlad dan adiknya didik oleh Sultan Murad II, tapi kemudian menjadi pembenci Kekaisaran Ottoman.
Hal itulah yang diduga kuat menjadi dasar Vlad begitu benci dengan Ottoman. Sementara Ottoman, bagaimanapun sangat membutuh Vlad meski sangat sulit diatur dan terus membangkang.
"Mereka (Vlad dan Radu) diperlakukan dengan cukup baik menurut standar saat ini," kata Elizabeth Miller kepada Live Science. Miller adalah seorang sejarawan penelitian dan profesor emeritus di Memorial University of Newfoundland di Kanada.
"Tetap saja, Vlad kesal, sedangkan saudaranya menyetujui dan pergi ke pihak Utsmani. Tapi Vlad memusuhi, dan saya pikir itu adalah salah satu faktor motivasinya untuk melawan Utsmani, membalas dendam dengan mereka karena telah menahannya."
Saat jatuh dari kekuasaannya, Vlad mendapatkan dukungan dari gubernur-gubernur Ottoman untuk mengambil kembali takhtanya.
Tentu Sultan mendukung Vlad agar Wallachia kembali menjadi wilayah kekuasaan Ottoman.
Pada Juli 1456, ketika pasukan Utsmaniyah dan Hungaria terkunci dalam pertempuran, Vlad memimpin pasukan kecil bangsawan yang diasingkan.
Tentara bayaran Hungaria dan Rumania melawan musuh lamanya Vladislav II di Târgoviște, menurut McNally dan Florescu dalam "Dracula, Prince of Many Face " (Little, Brown and Company, 1990).
"Dia puas membunuh musuh bebuyutannya dan pembunuh ayahnya dalam pertarungan jarak dekat," tulis mereka.