IKN Jadi Sorotan Media Asing, Sebut Proyek Ambisius

Pengamat lain juga menyoroti bagaimana resesi menjadi isu penting. Ini membuat negara-negara “pemilik duit” lebih memprioritaskan agenda lokal masing-masing.

“Banyak negara sedang menghadapi resesi atau sudah dalam resesi karena perlambatan ekonomi global,” kepala ekonom PT Bank Central Asia kata David Sumual.

“Negara-negara terkaya pun cenderung memprioritaskan agenda domestik mereka sendiri,” kutipnya lagi.

Di sisi lain, disindir pula bagaimana Indonesia disebut kurang berprestasi di bidang ekonomi. Meskipun pasokan batu bara, logam, kelapa sawit, dan karet berlimpah, tingkat pertumbuhan dikatakan tertinggal dari negara tetangga seperti Vietnam dan Filipina.

“Korupsi, kroniisme, dan birokrasi yang lamban semuanya disalahkan atas kegagalan berulang negara untuk memenuhi targetnya yang tinggi,” tulisnya.

Beberapa kritikus juga disebut khawatir ibu kota baru menghadapi nasib yang sama dengan proyek Mass Rapid Transit (MRT). Proyek itu ditunda hampir 30 tahun karena masalah pembebasan lahan dan kendala pendanaan.

“Deretan masalah serupa berarti proyek pembangkit listrik tenaga air yang besar di hutan Kalimantan, yang diluncurkan delapan tahun lalu, belum melihat satu bendungan pun dibangun,” tambahnya.

“Dan sementara pemerintah selalu merencanakan untuk membayar sendiri tahap pertama dari lima tahap konstruksi Nusantara, sumber daya negara telah terkuras oleh biaya berkelanjutan seperti pendidikan dan perjuangan melawan kenaikan inflasi. Pendanaan sisanya, sementara itu, tetap sulit dipahami,” muatnya.

IKN Nusantara sendiri diharapkan bisa memindahkan 1,9 juta orang di 2045. Pegawai Negeri Sipil (PNS) sendiri akan mulai dimobilisasi 2024. (edj/cnbc)

Editor: Erna Djedi