Kementan Beberkan Penyebab Bulog Susah Serap Beras Langsung dari Petani

“Itulah kendalanya,” sambungnya.

Ismail menjelaskan kenaikan harga pada masa panen kali ini disebabkan pasokan yang lebih rendah dari masa panen sebelumnya.

Menurutnya, stok beras selama Oktober hingga Desember 2022 ini selalu lebih sedikit dari periode sebelumnya dan pola ini terjadi saban tahun.

“Tanpa ada kenaikan harga BBM dan pupuk, harga gabah, harga beras di bulan-bulan ini, Oktober-Desember, selalu lebih tinggi. Kenapa? Pasokannya lebih rendah, petani menggunakan pupuk non-subsidi. (Harga tinggi) itu untuk mengompensasi pupuk non-subsidi, jual beras lebih tinggi,” paparnya.

Dia menambahkan, setelah ada kenaikan harga BBM, para pekerja di sektor pertanian menuntut kenaikan upah hingga Rp20-25 ribu per hari.

“Jadi segi produksi cukup, tapi komponen-komponen yang membuat produksi itu naik, biayanya nambah,” ucap Ismail.

Selain itu, ia mengungkapkan kemungkinan lain yaitu adanya sentimen negatif yang timbul di kalangan petani sebab ketidakmampuan Bulog untuk menyerap beras dengan harga pasar.

“Mungkin petani mikir pemerintah tidak punya alat untuk memberikan sentimen positif,” tegasnya. (berbagai sumber)

Editor: Yayu

Baca Juga: Pemuda Banjar Ngaku Imam Mahdi dan Nabi Ke-26 Diamankan, Kembali Dikirim ke Sambang Lihum