WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Selatan (Kanwil DJBC Kalbagsel), gelar konferensi pers progres pembangunan Gedung DJBC Kalbagsel, Rabu (26/10/2022).

Kanwil DJBC Kalbagsel merupakan salah satu instansi vertikal Kementerian Keuangan yang membawahi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, yang mulai terbentuk pada tahun 2017, dan berkedudukan di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Sejak berdiri hingga saat ini, Kanwil DJBC Kalbagsel belum mempunyai gedung kantor sendiri, sehingga untuk sementara masih menempati gedung Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Banjarmasin.

Berkat dukungan pemerintah serta mempertimbangkan beban kerja dan capaian kinerja Kanwil DJBC Kalbagsel yang terus meningkat, dalam waktu dekat Kanwil DJBC Kalbagsel akan memiliki gedung sendiri berupa gedung pemerintah di pusat kota Banjarmasin dengan konsep 'green building', yang bertempat di Jalan Ahmad Yani Km 2, Banjarmasin.

Kepala Kanwil DJBC Kalbagsel, Ronny Rosfyandi mengatakan, Pembangunan gedung dengan konsep 'green building' ini, diharapkan mampu mewujudkan sebuah 'master piece' gedung pemerintahan yang ramah lingkungan sebagai salah satu percontohan di bumi Kalimantan.

Meski sebelumnya sempat mengalami deviasi, namun untungnya hal tersebut dapat terselesaikan dengan baik.

"Alhamdulillah, untuk proses pembangunannya, masih sesuai rencana," ujar Ronny, kepada awak media.

Ronny juga menjelaskan, selama proses pembangunan, kendala yang paling terasa itu diawal pembangunan gedung tersebut
"Kendalanya saat pembangunan dipondasinya, karena kondisi tanahnya yang konturnya yang luar biasa ini," jelas Ronny.m

"Sehingga kita harus memasag tiang pancang sebanyak 131 buah, agar bisa menopang bangunan tersebut,".

"Selain itu, akses masuk cukup sempit di pusat bisnis kota, kontur tanah rawa, lokasi yang dikelilingi oleh beberapa bangunan yang telah berusia tua, juga turut menjadi kendala dalam pembanguannya," sambungnya

Di sisi lainnya, yang tak kalah menantang adalah adanya fluktuasi harga material yang signifikan sebagai efek geliat konstruksi pasca pandemi dan pasca kenaikan harga BBM.