Prabowo pun mengungkapkan alasannya mau menjadi pembantu Presiden Jokowi, yang notabene rivalnya pada dua kali Pilpres.
“Situasi politik kita sekarang stabil. Saya keliling ke mana-mana di dunia, mereka bingung, kok bisa anda rivalnya Pak Jokowi sekarang mau jadi anak buahnya Jokowi,” ungkap Prabowo.
Prabowo mengatakan, di negara Amerika Serikat yang merupakan ‘embahnya’ demokrasi, antara Partai Demokrat dan Republik, kadang duduk satu meja pun tidak mau.
Bahkan, lanjut Prabowo, mantan Presiden AS, Donald Trump, sampai kini tidak mengakui bahwa dia kalah.
“Di Indonesua fisolofi kita lain, bahwa walau kita berbeda pendapat tidak berarti kita harus bermusuhan,” kata Prabowo dalam sebuah acara yang diunggah di kanal YouTube.
“Kadang kakak adik satu keluarga ribut, mosok gontok-gontokan? Kadang kita berbeda padangan dengan orang dekat kita seperti dengan orangtua, anak. Itulah budaya Indonesia, Kekaluargaan,” Ketua Umum Partai Geridra ini.
Dikatakan Prabowo, kita boleh bersaing, boleh berbeda pemdapat, tapi tetap harus diingat bahwa kita adalah satu keluarga besar NKRI.
“Jadi kita bisa selesaikan perbedaan pendapat. Tiodak bisa kita 100 persen puas. Tapi lumayan 7o persen. Saya ingin jadi persiden, gak jadi. Mau marah-marah? Marah sama Tuhan? Ya gak bisa,” ujarnya. (edj)
Editor: Erna Djedi







