Menurut ahli, dua cabai tersebut 400 kali lebih pedas dan panas dari cabai jalapeno.
Prof Ari Fahrial Syam, ahli gastroenterologi hepatologi, mengatakan rasa pedas cabai berasal dari komponen capsaicin.
“Kalau jumlahnya sedikit, tidak masalah, itu bagus [membawa manfaat], kalau berlebihan bisa menimbulkan iritasi saluran pencernaan,” kata Ari, Senin (24/1/2022) lalu.
Efek paling cepat dan bisa dirasakan konsumen cabai adalah sensasi panas atau seperti terbakar di rongga mulut maupun saluran pencernaan termasuk kerongkongan dan lambung.
Saat konsumsinya berlebihan, sensasi seperti terbakar ini bisa bersifat iritatif atau mampu mengiritasi rongga mulut, kerongkongan dan lambung sehingga timbul rasa perih.
Bahkan saat sampai usus, ini akan merangsang buang air besar.
Kemudian saat kasusnya sampai membuat konsumen masuk UGD, biasanya sudah pada tahap rasa sakit luar biasa di area ulu hati.
“Ini belum lagi kalau pedasnya ada tambahan komponen lainnya, zat kimia biar tambah pedas. Lalu asam lambung bisa naik saat stres meningkat,” imbuhnya.
Meski harus berhadapan dengan rasa pedas, seringkali orang tidak ‘kapok’ mengonsumsi cabai.
Bahkan ada beberapa orang yang tidak bisa makan jika tidak ada cabai.
Ari berkata sebenarnya konsumsi cabai yang tidak berlebihan tidak akan menimbulkan persoalan.
Cabai termasuk dalam keluarga sayur-sayuran.
Konsumsi cabai akan memberikan asupan serat, vitamin C, antioksidan serta mampu meningkatkan nafsu makan.
Akan tetapi kebiasaan konsumsi cabai dalam jumlah besar bisa memicu masalah di saluran pencernaan seperti lambung menjadi sensitif, sakit maag, irritable bowel syndrome yang kadang membuat orang mudah diare.
Pertolongan Pertama Usai Makan Pedas
Ari menyarankan sebenarnya air putih bisa membantu meredakan sensasi panas dan mengencerkan asam lambung, namun susu lebih disarankan sebab mampu menenangkan lambung lebih cepat.
“Bisa juga memberikan lapisan pada lambung dengan obat-obatan misal antasida, sukralfat,” katanya. (brs/berbagai sumber)
Editor: Yayu Fathilal







