11 Tokoh Wanita Masuk Kepengurusan PBNU 2022-2027, Terdapat Nama Sinta Nuriyah dan Khofifah

Ketua PBNU Alissa Wahid mengatakan bahwa sudah sejak lama, perempuan di lingkungan NU dan pesantren telah berperan aktif sebagai peran utama, tidak hanya sebatas sebagai peran pendamping.

“Peran perempuan di lingkungan pesantren dan NU itu tidak pernah perannya sebatas koncowingking (pendamping). Bu nyai itu mengelola pondok, punya pondok putri sendiri, punya pengajian sendiri, keluar-keluar. Bahkan sudah punya BKIA (balai kesejahteraan ibu dan anak), BMT (baitul maal wa tanwil). Semuanya sudah dijalankan,” kata Ketua PBNU Alissa Wahid.

Artinya, lanjut Alissa, peran perempuan di NU bukan hanya peran domestik tetapi juga memiliki peran di ruang-ruang publik.

Dulu, perempuan dibatasi hanya pada zona di masing-masing badan otonom perempuan seperti Muslimat, Fatayat, dan IPPNU.

“Nah sekarang kita melihat bahwa ini sudah masyarakat kita sudah demikian integralnya antara laki-laki dan perempuan, sehingga ruang para Nahdliyyat ini tidak dibatasi hanya pada banom perempuan,” katanya.

Afirmasi peran perempuan itu, menurut Alissa, telah terlihat dan dirasakan pada gelaran Muktamar Ke-34 NU di Lampung. Ia menjadi satu-satunya perempuan yang menjadi ketua komisi.

“Kemarin itu terafirmasi dengan posisi ketua komisi rekomendasi yang perempuan, yaitu saya. Saya menganggap itu sebagai afirmasi, tidak sekadar lewat tetapi memang sudah ada perspektif (soal peran perempuan) itu. Karena kita ingin agar pandangan-pandangan perempuan juga didengar dalam konteks NU secara umum,” pungkasnya. (*)

Editor: Erna Djedi