Dinilai Tak Sesuai Sejarah Korea, Sponsor Menarik Diri dan Petisi Lebih dari 150 Ribu, Drakor Snowdrop Terancam Berhenti Tayang

    “Kami telah meminta penghapusan produk dan kami meminta maaf karena menimbulkan kegaduhan,” tulis Dopyongyo.

    Sponsor lainnya, Hans Electronic bahkan dikomplain pelanggan mereka karena menjadi sponsor di drakor Snowdrop ini.

    Pihaknya mengatakan hal senada.

    “Kami baru tahu isi dramanya setelah episode 1 tayang. Kami perusahaan kecil jadi respon kami agak telat. Kami mohon maaf kepada orang-orang yang terluka. Kami akan meminta penghentian sponsor ke tim produksi,” tulis Hans Electronic.

    Sementara itu, perusahaan Teazen juga dikomplain pelanggan karena nama merek mereka lewat sekilas sebagai iklan di televisi saat drama ini tayang.

    Penonton mengira Teazen juga termasuk sponsor.

    Menanggapi ini, Teazen melalui Instagram resminya menyatakan bahwa produknya tidak terkait apapun dengan Snowdrop dan hanya kebetulan lewat di jam tayang itu.

    Teazen meminta maaf karena membuat kegaduhan dan akan menghentikan iklan produknya di jam tayang itu.

    Sebagai bentuk protes lainnya, penonton juga membuat petisi ke Blue House atau istana kepresidenan Korea agar drakor Snowdrop dihentikan tayang.

    Petisi tersebut dibuat sehari setelah episode perdana tayang Sabtu (18/12/2021).

    Berselang beberapa jam kemudian, petisi tersebut telah mendapat lebih dari 150 ribu tanda tangan persetujuan.

    Alasan utama permintaan penghentian penayangan adalah penyimpangan sejarah.

    1) Pihak produksi meyakinkan tidak ada karakter utama yang ikut pergerakan demokrasi, dan sama sekali tidak ada pergerakan demokrasi di naskahnya. Namun ternyata di episode 1 langsung ditunjukkan pemeran utama seorang mata-mata disalahpahami sebagai aktivis.

    2) Ada banyak korban pergerakan 1987 yang masih hidup sampai sekarang. Kala itu NSA membuat pembenaran menyiksa sampai membunuh aktivis atas dasar dugaan adanya mata-mata komunis di tengah aktivis. Di drama Snowdrop seolah-olah pembenaran NSA benar terjadi.

    3) Pemutaran lagu ‘Dear Pine’ di adegan mata-mata dikejar oleh petugas NSA. ‘Dear Pine’ adalah lagu yang melambangkan pergerakan aktivis demokrasi kala itu.

    4) Penayangan drama di platform OTT global menambah penyebaran informasi sejarah yang tidak sesuai fakta.

    5) Korea Selatan adalah negara demokrasi yang mendapat demokrasinya bukan tanpa usaha melainkan melalui luka dan pengorbanan masyarakat. Sejarah pergerakan demokrasi juga masih segar di ingatan karena baru terjadi 30 tahun lalu.

    Sebelum Snowdrop tayang, beberapa bulan lalu juga sudah ada petisi untuk menghentikan produksi drama itu.

    Baca Juga :   Sarwendah Somasi 5 Akun Tiktok yang Dianggap Sebarkan Fitnah

    Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

    BERITA LAINNYA

    TERBARU HARI INI