KNKT juga mengapresiasi portal InaRISK, aplikasi kajian risiko bencana milik BNPB.
KNKT berharap pada aplikasi InaRISK terdapat fitur peta bahaya industri dan juga informasi kecelakaan yang pertama muncul di InaRISK bukan hanya lewat grup-grup chat.
Selain itu, InaRISK kedepannya dapat memantau kendaraan yang membawa limbah Bahan berbahaya dan Beracan (LB3) dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) untuk menjadi alat antisipasi ancaman bahaya bencana karena jalur yang dilalui kendaraan pembawa LB3 dan B3 sebenarnya berpotensi menjadi daerah rawan bencana (zona merah).
Sebagai tindak lanjut dari kunjungan kerja KNKT, disepakati akan disusun Nota Kesepahaman/MOU guna memperkuat kerjasama antara BNPB dan KNKT yang akan dimulai pada awal tahun 2022.
Selanjutnya BNPB dan KNKT juga sepakat akan mendorong lebih banyak kolaborasi dengan Kementerian/Lembaga seperti dengan Kementerian Perindustrian, Basarnas, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, serta Kementerian Lingkungan Hidup dalam upaya mempersiapkan mitigasi bencana kegagalan teknologi maupun kecelakaan trasnportasi.
Pada akhir kunjungan, rombongan KNKT juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Diorama Kebencanaan dan Ruang Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB Ir. B. Wisnu Widjaja M.Sc di lantai 11 Graha BNPB. (edj)
Editor: Erna Djedi







