Ini suatu pengalaman yang baik yang akan dikembangkan.
Aksi-aksi kaum tani ini belumlah cukup, baru tingkat permulaan, tapi cukup memberi harapan,” ucapnya yang optimistis PKI akan memberi jalan dan tugas untuk mewujudkan “lumpur sawah menyuburkan padi dan PKI, para petani bersatu, berjuang menyanyi dan menari”.
Meski demikian, Yusliani Noor mengatakan PKI di Kalsel sebenarnya tidak benar-benar kuat.
“Tidak terlalu kuat. Ketuanya saja, Amar Hanafiah, masih rajin salat,” ujarnya yang mengatakan jika masih rajin beribadah, artinya sang ketua PKI satu ini belum ‘kaffah’ pemahamannya terhadap ideologi Marxis tersebut.
Karenanya, hanya segelintir warga Banua yang tertarik dengan PKI.
Mereka juga lebih terkenal gara-gara kiprah aksi gagalnya di Hulu Sungai Utara.
Di Amuntai, anggota PKI sempat coba membunuh tokoh masyarakat setempat dengan racun, namun aksi itu berhasil digagalkan.
Tak ada satu pun target mereka yang berhasil dibunuh.
Pelakunya pun ditangkap aparat.
Pemicunya, gesekan dengan tokoh-tokoh yang dianggap berseberangan dan mengganggu eksistensi PKI.
Peristiwa ini terjadi sebelum 30 September 1965 dan tidak ada kaitannya dengan kudeta di Jakarta.
“Tapi, alasan utama mengapa PKI tak pernah kuat di sini karena sosok Panglima Kowanda Kolonel Hassan Basry,” tegas Yusliani.
Ketika PKI berdiri secara resmi di level nasional, Hassan malah menyatakan PKI sebagai partai terlarang di Kalsel.
Langkah membekukan PKI itu jelas tidak populer, mengingat Presiden Soekarno punya hubungan baik dengan kaum kiri.
