“Tren peningkatan kasus ini harus kita waspadai karena jika terjadi ledakan masif, jumlah pasien yang harus dirawat di fasilitas pelayanan kesehatan akan melonjak pula. Jika hunian tempat tidur melewati batas aman, rumah sakit dan tenaga kesehatan di Kalimantan Selatan bakal kewalahan,” paparnya.
Kondisi tersebut menurut Taqin juga dapat meningkatkan risiko keterpaparan tenaga kesehatan dari COVID-19. Begitu pula jika jumlah pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit sudah melebihi kapasitas, maka pertolongan terhadap pasien menjadi terlambat sehingga meningkatkan risiko kematian.
Dimana saat ini jumlah kasus kematian secara kumulatif di Kalimantan Selatan sudah tembus 1.000 kasus lebih dan 40 warga yang dilaporkan telah meninggal dunia setelah Lebaran tahun ini.
Taqin pun melihat ada potensi ledakan kasus COVID-19 lebih besar setelah Lebaran atau memasuki minggu keempat dan seterusnya berkaca dari pengalaman tahun lalu ditambah dengan tingkat mobilitas penduduk justru semakin tinggi meski adanya larangan mudik. (ant)
Editor: Erna Djedi







