Lebih dari 125 Ribu Guru Penentang Kudeta Militer Myanmar Diskors, Orangtua pun Enggan Sekolahkan Anak

Sekitar 19.500 staf universitas juga telah diskors.

Orangtua meminta anak-anak mereka tinggal di rumah

Pendaftaran dimulai minggu depan untuk masa sekolah yang dimulai pada Juni, tetapi beberapa orangtua mengatakan mereka juga berencana untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka.

“Saya tidak akan mendaftarkan putri saya karena saya tidak ingin memberikan pendidikannya dari kediktatoran militer. Saya juga mengkhawatirkan keselamatannya,” kata Myint (42) yang putrinya berusia 14 tahun.

Mahasiswa yang berada di garis depan protes harian yang menewaskan ratusan orang oleh pasukan keamanan juga mengatakan mereka berencana untuk memboikot kelas.

“Saya hanya akan kembali ke sekolah jika kita mendapatkan kembali demokrasi,” kata Lwin (18).

Sistem pendidikan Myanmar sudah menjadi salah satu yang termiskin di kawasan itu, menduduki peringkat 92 dari 93 negara dalam survei global tahun lalu, bahkan di bawah kepemimpinan Suu Kyi yang telah memperjuangkan pendidikan, pengeluaran di sektor ini di bawah 2% dari produk domestik bruto.

Itu adalah salah satu tingkat terendah di dunia, menurut angka Bank Dunia.

Pemerintah Persatuan Nasional yang didirikan oleh penentang junta militer, mengatakan akan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mendukung guru dan siswa serta menyerukan kepada donor asing untuk berhenti mendanai kementerian pendidikan yang dikendalikan junta.

“Kami akan bekerja dengan para pendidik Myanmar yang menolak mendukung militer yang kejam. Para guru hebat dan guru-guru pemberani ini tidak akan pernah ditinggalkan,” kata Sasa, juru bicara pemerintah persatuan nasional dalam email kepada Reuters. (ant)

Baca Juga :   Perintah Trump untuk Invasi Greenland Tak Berjalan Mulus

Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

BERITA LAINNYA

TERBARU HARI INI

paling banyak dibaca