RBD adalah bagian penting dari virus yang terletak di domain “spike” yang memungkinkannya berlabuh ke reseptor tubuh ACE2 untuk masuk ke dalam sel dan menyebabkan infeksi.
Menurut para peneliti, perubahan asam amino tunggal (asparagin menjadi lisin) memungkinkan pembentukan titik kontak baru dengan reseptor ACE2, sejalan dengan peningkatan dua kali lipat dalam afinitas pengikatan.
Karenanya, mutasi meningkatkan interaksi dengan reseptor virus ACE2, dan menghindari imunitas yang dimediasi oleh antibodi.
Para peneliti menemukan hal ini setelah menganalisis pengikatan pada lebih dari 440 sampel serum poliklonal dan lebih dari 140 antibodi monoklonal pasien yang pulih.
Mereka menemukan bahwa pengikatan proporsi antibodi monoklonal dan sampel serum secara signifikan berkurang akibat N439K.
Lebih buruknya lagi, mutasi N439K juga ditemukan memungkinkan pseudovirus untuk menolak netralisasi oleh antibodi monoklonal yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk digunakan secara darurat bagi pasien Covid-19.
Cara mengatasi dan menghindari varian N439K menurut mereka di antaranya adalah penggunaan antibodi yang menargetkan bagian terkhusus di RBD.
Sementara itu, Ahmad mengingatkan supaya menghindari infeksi Covid-19 itu sendiri, baik itu varian-varian mutasi baru maupun yang belum termutasi sekalipun.
Oleh karena itu, perlu adanya pengetatan protokol kesehatan berupa 5M dan penerapan ventilasi-durasi-jarak (VDJ).
Masyarakat diminta untuk menghindari aktivitas di ruang tertutup ber-AC dalam durasi atau waktu yang lama karena ventilasi udara di ruangan AC dianggap buruk sebab virus hanya berputar di dalam ruangan tersebut.
Namun, jika terpaksa berada di ruangan tertutup dengan AC maka jangan lupa untuk tetap menjaga jarak aman, serta menggunakan masker dengan baik dan benar. (brs/berbagai sumber)
Editor: Yayu Fathilal







