Hal ini bisa menyebabkan jumlah penderita bisa lebih banyak.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cell pernah mengungkapkan detail unik dari mutasi N493K yang membuatnya jadi lebih pintar.
Dilansir dari EurekAlert.org, Kamis (28/1/2021), para peneliti internasional dalam studi tersebut menyebutkan bahwa di antara banyaknya mutasi yang saat ini menjadi sorotan para ahli, mutasi N439K adalah mutasi paling umum kedua di bagian receptor binding domain (RBD).
Hasil analisis struktural terhadap mutasi ini menunjukkan bahwa ia memiliki interaksi tambahan antara virus dengan reseptor ACE2.
RBD adalah bagian penting dari virus yang terletak di domain “spike” yang memungkinkannya berlabuh ke reseptor tubuh ACE2 untuk masuk ke dalam sel dan menyebabkan infeksi.
Menurut para peneliti, perubahan asam amino tunggal (asparagin menjadi lisin) memungkinkan pembentukan titik kontak baru dengan reseptor ACE2, sejalan dengan peningkatan dua kali lipat dalam afinitas pengikatan.
Karenanya, mutasi meningkatkan interaksi dengan reseptor virus ACE2, dan menghindari imunitas yang dimediasi oleh antibodi.
Para peneliti menemukan hal ini setelah menganalisis pengikatan pada lebih dari 440 sampel serum poliklonal dan lebih dari 140 antibodi monoklonal pasien yang pulih.
Mereka menemukan bahwa pengikatan proporsi antibodi monoklonal dan sampel serum secara signifikan berkurang akibat N439K.
Lebih buruknya lagi, mutasi N439K juga ditemukan memungkinkan pseudovirus untuk menolak netralisasi oleh antibodi monoklonal yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk digunakan secara darurat bagi pasien Covid-19.







