Banjir Kurau Sudah Mulai Surut, Warga Kini Dihantui Air Laut

Dia mengaku baru tiga hari terakhir kembali dari pengungsian seiring air yang berangsur surut.

“Hampir sebulan kami tinggal di pengungsian. Meski di rumah juga masih tergenang saat ini jika air pasang, namun ketinggian air hanya di bawah lutut,” tuturnya.

Sementara Kepala Desa Kurau Anang Kaderi mengakui wilayah desanya hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari laut lepas yaitu laut Jawa, sehingga air pasang sangat mempengaruhi kondisi banjir yang terjadi.

“Kalau terjadi hujan deras, air dari Kecamatan Bati-Bati akan turun ke sini. Sedangkan di sebelah barat laut Jawa, mungkin itu yang menyebabkan desa kami jadi tumpuan air,” ungkapnya.

Untuk itulah, Anang mengingatkan warganya yang mayoritas sebagai petani dan nelayan itu tetap waspada jika sewaktu-waktu air pasang kembali hingga masuk ke rumah.

“Dari 13 Rukun Tetangga, ada enam RT yang masih terdampak banjir, dimana air naik turun,” bebernya.

Anang mencatat Desa Kurau yang terdampak banjir terdapat 706 Kepala Keluarga atau 2.333 jiwa menghuni 650 rumah.

Menurut dia, saat ini menjadi masa pemulihan pascabanjir. Warga tentunya masih membutuhkan bantuan karena ada sebagian belum bisa bekerja secara normal.

“Kami berterima kasih semua pihak yang membantu seperti hari ini dari Forum Rektor Indonesia dan Universitas Lambung Mangkurat yang diterimakan oleh Sekretaris Daerah Tanah Laut Dahnial Kifli,” tandasnya. (ant)

Editor: Erna Djedi