WARTABANJAR.COM – Banyak umat Islam berlomba-lomba menghabiskan malam-malam terakhir Ramadan di masjid, berzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an demi meraih keutamaan malam yang agung ini.
Namun, bagaimana dengan mereka yang harus bekerja saat malam Lailatul Qadar? Apakah mereka kehilangan kesempatan untuk meraih keutamaan malam ini?
Imam Qurthubi dalam tafsir al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, menjelaskan Lailatul Qadar menjadi istimewa karena pada malam tersebut, Allah membagikan keberkahan dan kebaikan yang luar biasa, yang nilainya melebihi amal ibadah selama seribu bulan.
Malam ini merupakan kesempatan emas bagi setiap hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, doa, dan permohonan ampun.
Keistimewaan Lailatul Qadar juga dikarenakan pada malam itu turun para malaikat, termasuk Jibril, atas izin Allah untuk menyebarkan rahmat dan ketenteraman hingga fajar tiba.
Dalam malam ini, takdir tahunan ditetapkan, dan keberkahan melimpah bagi mereka yang beribadah dengan penuh keikhlasan.
Untuk itu, seyogianya kaum Muslimin untuk memperbanyak amal saleh, terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, agar tidak melewatkan keutamaan yang luar biasa ini.
Pada malam ini terbuka kesempatan meraih ampunan dan kedekatan dengan Allah yang tidak bisa ditemukan dalam malam-malam lainnya.
Simak keterangan Imam Qurthubi berikut yang atinya; “Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan; artinya, Allah telah menjelaskan keutamaan dan kemuliaannya. Keutamaan suatu waktu ditentukan oleh banyaknya kebajikan yang terjadi di dalamnya. Pada malam itu, dibagikan kebaikan yang sangat banyak, yang tidak ditemukan tandingannya dalam seribu bulan. Dan Allah-lah yang Maha Mengetahui,” (Imam Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, [Beirut: Darul Fikr, tt], Jilid XX, halaman 117).
Lebih jauh lagi, di berbagai penjuru dunia, banyak orang yang bekerja di malam hari karena tugas dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan.
Dokter, misalnya, di ruang operasi, perawat yang merawat pasien, petugas keamanan yang menjaga ketertiban, serta pekerja lainnya yang bertugas demi kepentingan masyarakat.
Mereka mengorbankan waktu istirahat dan ibadah di masjid demi menjalankan tugas yang penting.
Bisakah mereka mendapatkan dan meneguk keberkahan Lailatul Qadar? Jawabannya adalah bisa.
Rahmat Allah begitu luas dan mencakup semua hamba-Nya yang beramal dengan niat yang tulus. Rasulullah bersabda,
Menurut Imam al-Ghazali “Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menghidupkan malam Lailatul Qadar tidak terbatas pada shalat dan dzikir di masjid, tetapi juga bisa dengan amal kebaikan lainnya yang dilakukan karena Allah.
Misalnya, seorang dokter yang dengan penuh keikhlasan merawat pasiennya.
Pun ketika seorang petugas keamanan yang berjaga agar orang lain bisa beribadah dengan tenang.
Demikian juga, seorang perawat yang tetap siaga di ruang ICU, semua itu adalah bentuk ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar.
Dalam Islam, menolong sesama merupakan perbuatan mulia yang sangat dianjurkan.







