Tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga jadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 2, yang artinya “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Imam Qurtubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an menafsirkan bahwa ayat ini menjelaskan pentingnya tolong-menolong dalam kebaikan, baik yang bersifat wajib maupun yang dianjurkan.
Sementara itu, Al-Mawardi menambahkan bahwa Allah mengaitkan kerja sama ini dengan ketakwaan, karena ketakwaan mendatangkan keridhaan Allah, sedangkan kebaikan membawa keridhaan manusia.
Ketika seseorang mampu menggabungkan keduanya, ia akan meraih kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup. Lebih jauh lagi, ayat ini bersifat universal dan berlaku bagi semua orang tanpa memandang status atau kedudukan.
Setiap individu dianjurkan untuk saling membantu dalam urusan dunia maupun akhirat.
Contohnya, seorang guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya, seorang dokter yang mengobati pasiennya, atau orang kaya yang berbagi hartanya kepada mereka yang membutuhkan.
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.” Al-Akhfasy berkata: “Ayat ini terpisah dari awal kalam dan merupakan perintah bagi seluruh makhluk untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, yakni hendaklah sebagian dari kalian menolong sebagian yang lain, saling mendorong untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan mengamalkannya, serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan menghindarinya,” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Kairo: Darul Kutub al-Mishriyah, 1964 M], Jilid VI, hlm. 46).
Pun ketika seorang ayah yang bekerja mencari nafkah di malam hari juga tak tertutup kemungkinan mendapatkan malam lailatul qadar.
Pasalnya, dalam sebuah hadits riwayat Imam Thabrani dikatakan bahwa termasuk ibadah jihad adalah saat kepala keluarga berusaha mencari nafkah untuk kebutuhan anak dan istrinya.
“Suatu ketika, seorang laki-laki melewati Nabi SAW. Para sahabat melihat kegigihan dan semangatnya, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya (semangat) ini digunakan di jalan Allah?” Maka Rasulullah bersabda: “Jika ia keluar untuk mencari nafkah demi anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk mencari nafkah demi kedua orang tuanya yang sudah tua renta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk mencari nafkah demi dirinya sendiri agar tetap menjaga kehormatan, maka ia berada di jalan Allah. Namun, jika ia keluar dengan tujuan riya’ dan berbangga diri, maka ia berada di jalan setan.”
Lailatul Qadar bukan hanya soal tempat, tetapi juga soal niat dan keikhlasan hati.
Mereka yang bekerja di malam tersebut tetap bisa berzikir dalam hati, membaca doa-doa pendek, atau menyempatkan diri untuk shalat meskipun hanya beberapa rakaat.
Bahkan, tugas yang mereka lakukan dengan niat ibadah dapat menjadi jalan bagi mereka untuk mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar.
Selain itu, Allah memberikan berbagai bentuk kemudahan bagi hamba-Nya.
Meskipun mereka tidak bisa berada di masjid sepanjang malam, mereka bisa menghidupkan malam dengan berbuat baik, membantu orang lain, dan tetap menjaga hubungan dengan Allah melalui doa dan niat yang lurus.
Allah Maha Mengetahui usaha setiap hamba-Nya dan tidak akan menyia-nyiakan amal yang dilakukan dengan keikhlasan. Jadi, apakah pekerja shift malam bisa mendapatkan Lailatul Qadar?
Sangat mungkin! Rahmat Allah tidak terbatas dan setiap amal baik yang dilakukan dengan niat yang benar dapat menjadi jalan menuju keberkahan.
Yang terpenting adalah menghidupkan malam itu sesuai dengan kemampuan masing-masing dan tetap menjaga keikhlasan dalam setiap tindakan.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua dan memberikan kesempatan untuk meraih keutamaan malam yang penuh berkah ini. Wallahu a’lam. (Berbagai sumber/NU Online)







