Pakar Sebut Ada Hubungannya Antara Cuaca Ekstrem dengan Pemanasan Global

WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Saat ini sejumlah wilayah di Indonesia diterpa cuaca ekstrem berupa banjir, angin kencang, hujan lebat, dan sejenisnya.

Terkait ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap berbagai fenomena atmosfer pemicu cuaca ekstrem akhir 2022.

Dikutip dari siaran pers, Deputi Meteorologi BMKG Guswanto menerangkan bahwa potensi cuaca ekstrem dipicu oleh aktifnya sejumlah fenomena dinamika atmosfer di sekitar wilayah Indonesia.

BMKG merinci beberapa hal ini sebagai pemicunya:
1. Peningkatan aktivitas Monsun Asia

2. Kenaikan intensitas fenomena ‘cold surge’ atau seruakan dingin

3. Potensi arus lintas ekuatorial yang membuat aliran massa udara dingin dari Asia memasuki wilayah Indonesia dan meningkatkan pertumbuhan awan hujan

4. Indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia yang dapat memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang cukup masif dan berpotensi hujan.

5. Fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang aktif bersamaan dengan fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial, yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan terutama di bagian tengah dan timur.

Dalam acara Bincang Sains bertajuk ‘Waspada Cuaca Ekstrem’ secara virtual, Rabu (28/12), Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Didi Satiadi mengungkapkan sebab di balik fenomena-fenomena atmosfer itu.

Dia menggambarkan [cuaca] seperti motor yang rodanya berputar dan mesinnya menyala.

“Kalau mesinnya digas, rodanya berputar lebih cepat,” katanya.

Jadi, lanjutnya, mesin cuaca adalah dari Matahari, terjadi pemanasan.

“Kalau pemanasannya ini bertambah karena gas rumah kaca tadi, maka siklus hidrologi yang seperti rantai tadi akan berputar lebih cepat,” ujarnya.

“Karena berputar lebih cepat, artinya lebih cepat juga terjadi penguapan, lebih intens, lebih deras hujannya, jadi lebih basah sekaligus lebih kering,” imbuhnya.

Didi menambahkan cuaca ekstrem sebetulnya sebuah fenomena yang normal, tetapi kini cenderung bertambah intensitasnya karena perbuatan manusia.

“Yang pertama itu, yang kita kenal pemanasan global. Akibat pembakaran fosil berlebih membuat perubahan iklim. Perubahan iklim ini pada dasarnya meningkatkan siklus hidrologi,” jelasnya.

Selain itu, berubahnya tata guna lahan di perkotaan juga disebut mengurangi kualitas lingkungan, sehingga meningkatkan cuaca ekstrem dan potensi bencana.