WARTABANJAR.COM, JAKARTA- Menjelang Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 (Nataru), harga telur ayam naik.
Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi mengungkap faktor penyebab kenaikan harga telur ayam tersebut.
Pertama, adalah peningkatan permintaan saat menjelang Natal dan Tahun Baru 2023.
Selain itu, Arief mengatakan kenaikan harga input produksi terutama jagung pakan juga menjadi penyebab lainnya harga telur ayam naik.
Untuk itu, katanya, tata kelola jagung nasional juga harus diperkuat.
Arief menjelaskan mahalnya harga pakan berdampak secara signifikan terhadap harga pokok produksi telur dan produk peternakan unggas lainnya.
Hal ini mengingat jagung merupakan salah satu komponen pakan unggas yang banyak digunakan.
Dia melanjutkan, pembenahan tata kelola jagung sudah pihaknya mulai dengan Per-badan Nomor 5 Tahun 2022 yang juga mengatur HAP jagung di tingkat produsen dan konsumen.
“Kami juga mendorong adanya Cadangan Jagung Pemerintah sesuai amanat Perpres 125/2022,” paparnya, Jumat (2/12/2022).
Untuk menekan harga telur, Arief menjelaskan akan terus meningkatkan Gerakan Pangan Murah melalui kegiatan semacam bazar atau operasi pasar yang menjual komoditas pangan dengan harga terjangkau.
Timnya kini tengah mengumpulkan data kebutuhan bazar pangan di seluruh Indonesia.
“Akan kami jadwalkan di seluruh Indonesia bekerjasama dengan Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, Asosiasi, dan BUMN,” ucapnya lagi.
Sampai akhir November 2022 lalu, kegiatan Gerakan Pangan Murah tercatat telah dilaksanakan sebanyak 253 kali, di 27 provinsi, dan 82 Kabupaten/Kota, dengan menyalurkan sejumlah total 534 ton komoditas pangan termasuk telur.
Selain itu, NFA juga telah meminta para peternak layer dan pedagang telur untuk membeli dan menjual telur ayam ras sesuai dengan Harga Acuan Penjualan/Pembelian (HAP) yang telah disepakati dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 5 Tahun 2022.
